SUNAN GIRI –KAUM MUTIHAN (KUBU GIRI) SUNAN KALI JAGA-KAUM ABANGAN (KUBU TUBAN)

Dalam taktik dakwah ada dua poros, Mutihan (kabu giri, Sunan giri) dan Abangan (Kabu tuban, Sunan Kalijaga). Mutihan berhaluan keras-ortodoks bersekutu dengan bangsawan dan Hartawan, Abangan berhaluan luas-adaptif bekerja sama dengan rakyat dan dakwah melalui pendekatan budaya asli jawa. Sunan Giri dan Sunan Kalijaga sangat berpengaruh dalam suksesi pemerintahan melalui Demak sampai berdirinya Mataram. Setelah Sunan Ampel wafat, Sunan giri di angkat sebagai pemimpin para Wali, Pemimpin agama seluruh Jawa Mufti, Sunan Kaliu Jaga sebagai pemimpin politik kenegaraan.

Berdirinya kerajaan Demak Bintara menunjukan wujud riil hasil gerakan Islam yang di pimpin oleh para Wali. Pada waktu itu penguasa Panatagama dan Panatapraja di pisah. Sunan Giri, penguasa keagamaan Menunjuk dan Menobatkan seorang tokoh menjadi penguasa pemerintahan (tahun 1478-1506). Ini mirip keadaan Eropa Abad pertengahan ketika gereja katolik menobatkan raja. Karenanya Sunan Giri di anggap sebagai “Paus Jawa.”

Sunan Kalijaga, menggunakan Wayang kulit (menggantikan Wayang Beber), sebagai media dakwah agama Islam. Untuk mereduksi resistensi dari pihak Ortodoks, Sunan Kalijaga menempatkan Sunan giri sebagai rajanya para dewa, Betara  guru atau sanggirinata. (benar, yang “menata’ Adalah Sunan Giri, namun yang Melaksanakan, eksekutifnya, adalah Sunan Kalijaga). Sunan Kalijaga juga berperan dalam mengembangkan dalam seni lainya.

Di bidang politik pemerintahan Sunan kalijaga adalah seorang ahli setratregi. Sewaktu pendirian kerajaan  Demak, Pajang dan Mataram, Sunan Kalijaga Misalnya:

  1. Menasehati Raden Patah (Penguasa demak), agar tidak menyerang brawijaya V (ayahnya), karena beliau tidak pernah menggangu masarakat Islam, bahkan Permeisuri banyak keluargfa Raja, petinggi Raja Banyak memeluk agama Islam. Di samping itu Majapahit toh sudah lemah dan bakal jatuh degan sendirinya
  1. mendukung Jaka tingkir menjadi dipati Pajang dan menyarankan agar ibukota di pindah dari demak ke Pajang, (karena demak telah kehilangan budaya asli jawa, seperti umumnya kota pelabuhan), Pajang yang terletak di pedalaman menganut keislaman melalui jalur tasawuh, Sunan Kalijaga tak setuju kalau penguasaan Panatagama masih di pegang para Wali, terlebih-lebih oleh Sunan giri(Mutihan).
  1. Menasehati Jaka tingkir agar segera memenuhi janjinya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Pemanahan, Sunan Kalijaga meminta pPemanahan agar berjanji setia takakan menjadi Raja dan Mbalela terhadap kekuasaan Pajang, Sunan Kalijaga menasehati Senopati (anak Pemanahan) agar tidak hanya mengandalkan kekuatan batin melalui Tapabrata, tetapi juga menggalang kekuatan  lahir/fisik dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan wilayah dari sekliling, Sunan Kalijaga mewariskan Senopati Baju antrakusuma atau Kyai Gondhil, yang di percaya dapat memberikan kekebalan pada tubuh sipemakai.

4 Komentar

  1. Rora Vee said,

    Minggu 7 Agustus 2011 pada 11:11 PM

    ijin menyimak mas

  2. budi prasetyo said,

    Sabtu 10 Oktober 2015 pada 5:16 PM

    Boleh tahu apa ada ulasan keturunan sultan trenggono putra sultan raden patah dalam artikel yang lain ? trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: