MINUM AIR DEGAN HASIL KEBUN KI AGENG GIRING DI GUNUNG KIDUL SEBAGAI SYARAT MERAIH TAHTA MATARAM

Adipati Pengging, Andayaningrat menikah dengan Putri Brawijaya V, Retno Pembayun, dan mempunyai dua orang Putra, Kebo Kenongo dan Kebo Kanigoro. Sang Adiparti dan Kanigoro bertempur melawan Sunan Kudus Manggalayuda kerajaan Islam Demak. Ketika keduanya gugur, Kebokenongo menggantikan Ayahnya (Adipati Andayaningrat), sebagai Petinggi Pengging, yang kemudian di kenal sebagai Ki Ageng pengging.

Wahyu Keraton yang bernama Gagak Emprit itu termasuk ke buah kelapa muda yang tumbuh di kebun Ki Ageng Nggiring III. Ki Ageng Giring III mendapat wangsit bahwa siapa yng dapat meneguk air kelapa muda itu sampai habis,  kelak akan menurunkan Raja. Ki Ageng giring segera memetik buah kelapa  muda, “Berwahyu keraton” itu, dan meminta sagar sang istri untuk menyimpan dan baik selama dirinya pergi ke sawah, di sawah , Ki Ageng giring III bekerja eksrta keras sampai berkeringat deras agar dahaga berat, kehausanya yang sangat di harapkan membuat dirinya mampu meneguk habis air kelapa muda  yang di percaya mengandung Wahyu itu.

Namun manusia boleh mempunyai rencana, akhirnya kodrat iilahi-lah yang menentukan, kebeneran, Pemanahan bertamu ke rumah ki Ageng giring III, dan langsung meneguk air kelapa muda, simpanan sahabatnya itu, mungkin karena kehausan setelah menempuh perjalanan atau sebab lain, Ki Ageng Giring III sangat terperanjat melihat kelapa muda simpananya telah kedahuluan di minum habis oleh sahabatnya, Ki Ageng Giring III, yang sangat kecewa karena harapan untuk menjadi raja telah Pupus, namun di tolaknya dengan halus, bahkan sampai turun ke 6 pun Ki Ageng Giring III hanya mendapat jawaban dari Pemanahan: “Adimas, Wallah’ualam, di belakang hari, saya tidak tahu.

Janji Pemanahan nyaris terpenuhi jika tidak di iringi oleh ketidak sabaran keturunan Ki Ageng giring III. Ki Wonokusumo dan kedua anaknya tidak sabar sampai menunggu Amangkurat II turun Tahta, penguasa ke-6 tahta kerajaan Mataram. Mungkin setelah itu tibalah giliran mereka untuk menjadi Raja jawa. Amangkurat II di lengserkan oleh VOC dan di gantikan oleh Puger, pendiri “dinasti Pakubuono.

Ki Wonowaseso dan pengikutnya Mbalela, namun gagal. Kedua putranya gugur dan Ki Wonakusuma sendiri menghilang tidak di ketahui nasibnya, terhapus dari sejarah.

Andaikan Wahyu keraton “diteguk” Ki Ageng giring III, maka orang orang Wonosari, tidak akan di sebut wong gunung adoh Ratu cedak Watu, sebaliknya orang orang Yogya menjadi wong ndeso, konon wahyu keraton akan kembali kepada seseorang yang berhak, setelah mataram terbelah menjadi dua kerajaan (1755). Seseorang tadi tentunya berasal dari gunung kidul atau Pacitan!

4 Komentar

  1. joey said,

    Kamis 29 November 2012 pada 8:32 AM

    mas …bisa ga diulas maslah kiwono kusumo…karena ada sejarah yg mengatakan bahwa wonosari dulunya karena adanya ki wono kusumo, tp yg saya baca ki wono kusumo berasal dari kerajaan demak dan beliau mengembara dan membuka hutan dan akhirnya perkampungan tsbt bernama wonotoro…. coba pripun sing bener

    • sarjiono774 said,

      Rabu 30 Januari 2013 pada 11:01 AM

      mungkin fersi dari sejarah dari orang berbeda tu mas saya ngambil dari buku babad tanah jawa dari leluhur sampai yang di luhurkan sampai penobatan sri sultan ke X

  2. widharyanto said,

    Jumat 8 Juli 2016 pada 12:00 AM

    Mohon informasi di manakah makam Nyi Talang Warih, istri Ki Ageng Giring III?

    • sarjiono774 said,

      Jumat 21 Oktober 2016 pada 10:40 AM

      kalau gak salah di fotgalih selatan bandara adisujipto belakang masjid patok negoro sisi timur


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: