HADIWIJAYA SERANG MATARAM, NAMUN KALAH, TERLUKA DAN AHIRNYA MANGKAT

Karena Sutawijaya telah  tiga tahun tidak sowan ke Pajang , Hadiwijaya mulai curiga, lebih lebih setelah di kompori kedua menantunya, Adipati tuban (permalat) dan Adipati Demak  (pangiri). Sebelum benawa 9 putra Hadiwijaya) dengan Kekuatan 1000 prajurit tiba di Kotagede, Pengalasan (Intel mataram) mengusulkan agar Sutawijaya menyiapkan penyambutan Meriah. Sutawijaya beserta keluarga menyambut Benawa di Randulawang dan mempersilahkan naik gajah, bersama dirinya pergi ke pusat kerajaan Mataram.

Di ibukoata di adakan jamuan meriah untuk meyakinkan bahwa tidak ada maksud dalam diri Sutawijaya untuk Mbalela terhadap pajang. Adipati Tuban, tidak senang dan tetap curiga, mengusulkan diadakan tari Perang. Beksan rangin. Adu kesakten pesta menjadi geger ketika kedua prajurit Tuban hancur kepalanya terkena senggolan Rangga, yang membuat utusan Pajang segera meninggalkan Mataram. Walaupun menerima dua laporan yang berbeda, namun Sultan Pajang tetap tenang. Benawa melapor Sutawijaya tetap setia, sebaliknya Adipati Tuban melapor Sutawijaya akan mbalela. Kedua laporan diteriima dengan baik dan tidak di tindak lanjuti.

Tetapi perang dengan Mataram tidak dapat di hindarkan lagi. Namun pemicu kali ini adalah “Wanita’  bukan tahta,” Tumenggung Mayang , ipar Sutawijaya, mempunyai seorang putra, Pabelan, yang tampan tetapi Tukmis. Karena berani ngglibeng bermain asmara dengan sekar kedhaton (putrid sultan Pajang), Pabelan dijatuhi hukuman Mati. Mayang beserta keluarga di buang Ke semarang. Di tengah perjalanan prajurit Sutawijaya mencegat dan membawa mereka ke mataram. Sultan Pajang marah dan berangkat menyerang Mataram dengan 10,000 prajurit .

Di Prambanan, Sutawijaya dengan hanya 1000 Prajurit di bawah pimpinan Mayang dan ‘Bimbingan” juru Martani berani menghadapi Pasukan Pajang. Berkat siasat Juru Martani dan bantuan “alam” (gunung Merapi Meletus di tengah Kegelapan Malam, hujan lebat, banjir, gempa bumi) sertya bantuan Kanjeng Ratun Kidul, Prajurit Pajang di buat kocar-kacir. Sultan Pajang terjatuh dari Gajah tungganganya ketika melarikan diri dan di usung kembali ke pajang dalam keadaan terluka  (parah).

Sutawijaya menyusulm Ke pajang hanya di kawal dengan 40 orang prajurit. Melihat hal ini Benawa segera bersiap untuk menumpasnya, namun di cegah oleh ayahnya…” tiga tahun setelah Sutawijaya, Pemanahan Wafat (1584), ayah angkatnya, Sultan Pajang Wafat (1587).

Benawa, Senopati, dan juru Martani sangat bersedih dalam merawat jenasah Sultan Pajang. Jenasahnya kemudian di makamkan di desa butuh.

2 Komentar

  1. Eko Prasetyo said,

    Selasa 24 Februari 2015 pada 10:26 PM

    ijin share ya pak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: