DIPLOMASI WIRARAJA SETELAH MENGABDI DAN KELABUHI ORANG TARTAR TAHUN 1293

Atas nasehat wiraraja, Wijaya mengabdi kepada Jayakatwang “sepenuh hati” agar di ampuni dosanya, yaitu berani melawan pasukan Kediri (Jayakatwang), swaat menyerang Singosari. Atas saran Wiraraja, yang sangat juga di hormati oleh jayakatwang, Wijaya diampuni, bahkan di perkenankan menetap di hutan tarik, dekat muara kali berantas. Karena Wijaya sangat berterimakasih kepada Wiraraja : “…Sangat besar utangku kepadamu, jika tercapai tujuanku, akan kubagi menjadi Dua tanah Jawa nanti. Hendaknyalah kamu menikmati seperduanya…” Wiraraja menjawab: “ bagai mana saja… asal padukaku dapat menjadi raja saja. “ di hutan tarik yang merupakan awal majapahiot itulah Wijaya mulai berkonsolidasi untuk mewujudkan citacitanya.

Pasukan Tartar di pimpin Shih Pie, Ike Mishe dan Kau sing. Berkuatan 200.000 orang datang di Jawa untuk Nggebug Kertanegara yang telah menghina Rajanya, Khubelaikhan (tahun 1293). Wijata membodohi pimpinan pasukan Tartar, dengan mengalihkan serangan mereka ke Kediri dengan dalih Kertanegara sudah berada di sana. Sehabis mengalahkan Kediri, secara takterduga Wijaya Menggempur dari belakang pasukan Tartar sehingga kocar kacir. Kesemuanya ini di lakukan atas ide Sang Maestro, Wiraraja.

Wijaya di nobatkan sebagai raja Majapahit yang pertama (tahun 1293-1309), bergelar Sri kertarajasa Jayawardana. Wijaya beristrikan Empat Putri Kartanegara, yaitu Tri Buana Iswari, Narendra Duhita, pradnya paramita, dan Gayatri ( Raja Padni ). Dari kerajaan Pamalayu, Wijaya membawa darapetak dan dara Jingga. Dara petak di peristrikan dan di angkat sebagai Pramaswari yang di tuakan setelah melahirkan anak laki-laki, Kalagemet.

Dengan Gayatri, Wijaya mendapatkan dua Putri Putrei yang pertama, Tri Buanatunggadewi, Jayawisnuwardhani (Sri Ditarja) di angkat sebagai pemangku Kuasa Kahuripan (Diahwyat), Bergelar Breh Kahuripan. Putri yang kedua, Raja Dewi Maharajasa di angkat sebagai pemangku kuasa daha bergelar Breh Daha  (Gambar4).

Ketika Wijaya merefitalisasi politik ekaspansi kartanegara menuju Negara kesatuan terjadilah serangkaian pemberontakan yang melibatkan Sahat-Sahabat Raja. Mereka yang berasal dari grassroot tidak puas atas tindakan Raja. Ranggalawe, menglala mancanegara membela karena cemburu atas pengangkatan Nambi sebagai patih Mangkubumi (tahun 1294). Keboanabrang dapat menumpas pemberontak, bahkan berhasil menewaskan Ranggalawe (tahun 1295). Namun kemudian Lembusora mebunuh Keboanabrang mungkin karena Intrik Istana, yang konon di dalangi oleh Majapahit atau Ramati, pengganti patih Mangkubumi Nambi ( tahun 1298). Keterangan semakin memuncak ketika Wijaya Wafat (tahun 1309), setelah memerintah selama 16 tahun.

Wijaya di keramatkan sebagai Syiwa di Sumberjati (Sumpying, selatan belitar), dan sebagai Bhuda antahpura di dalam kota Majapahit. Arca berwujudnya adalah Hari Hara,  yaitu Wisnu dan Syiwa dalam satu arca. Ini menjadi bukti telah terpadunya agam Hindu dan Buda selama pemerintahanya, bentuk-bentuk ibadat Syiwaisme dan Budisme damai berdampingan. Juga ide-ide Jawa Asli semakin kuat muncul kembali bukannya dengan melawan secara frontal, melainkan melalui bentuk-bentuk India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: