BAB III MATARAMISLAM BABAT ALAS MENTAOK ,TITI KAWAL PENDIRINYA KERAJAAN MATARAM ISLAM

Pemanahan diminta Hadiwijaya membagi adiltanah hadiah sayembara, Pemanahan memilih mataram agar Penjawai bisalangsung menikmati pati yang sudah berkembang (10,000 penduduk). Pati segeradi serahkan,  tapi Mataram ditahan karena adanya Wirayat (Cerita  turun temurun) Sunan Prepen,  yang berkata:…. Ketahuilah keturunan Pemanahan itu kelak akan menjadi Raja yang memimpin orang tanah Jawacsemua… termasuk Giri sini, besuk akan tunduk pada Matara.’ Akibatnya, Hadiwijaya menunda Penyerahanya dengan dalih karena Mataram masih berupa Hutan, maka perlu di carikan tanah lain “yang lebih baik dan siap pakai” sebagai gantinya.

Kecewa atas keputusan Sultan, Pemanahan pergi bertapa di kembang lampir (Bang Lampir), usai bertapa atas saran Juru martini Pemanahan menemui Sunan Kali Jaga. Setelah mendapatkan fatwa bahwa seorang rajaharus taat azas, ora keno wola wali, Pemanahan berama Sunan Kali jaga pergi ke pajang untuk, “menagih Janji” tetapi tetap gagal, namun karena “di desak” Sunan Kali Jaga. Pemanahan di beri tanahMataram setelah sumnpah setia,: “Kanjeng Sultan, saksikanlah, kalau saya maksud akan bertahta di mataram, atau akan menghancurkan keratin Pajang, diri saya sendiri mudah mudahan binasa, walaupunn saya tidak tau, kehendak allah di belakang hari.

Pemanahan sekeluartga (150 orang). Dan Juru Martani, kemudian pindah ke Mataram, untuk babat alas mentaok . dalam perjalananya beliau di jamu ki Ageng Karanglo  di dusun Taji (dekat p-rambanan), sebelum di antarkan sampai Kali Opak. Di tempat ini mereka bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang memberikan nasehat agar Pemanahan nantinya “membagi” Kamukten turun Ki Ageng Karanglo.  Mereka kemudian pergi ke arah barat daya menembus hutan mencari tempat yang landai. Mereka beristirahat di sebelah barat hutan Wiyoro (mentaok), kelak di sebut Kota Gede.

Pemanahan ingart Ki Ageng giring III, sahabat lama yang tinggal di Gunung Kidul, menurut bukti Arkeologis dan penemuan benda purbakala, Gunung klidul telah di huni 4000 tahun sebelum alas Mentaok di buka. Tatkala Kota Gede masih Gong liwang Liwung,  gunung Kidul sudah meraja, Ki Ageng Giring juga di sebut Ki Ageng Paderesan karena profesinya sebagai petani9 penyadap Legen (nira), nderes kambil, Konon Ki Ageng Giring masih Trah Tunggul Petung. “Raja para penderes legen” dari Prambanan, Kali oya (di Gunung Kidul), yang tidak pernah kering di musim kemarau di anggap lebih bersahabat ketimbang lembah Kali Opak (di prambanan), dan kali Progo yang “relative lebi rawan” banjir Lava Panas, lahar dingin, dan wedhus gembel Gunungb Merapi. Kemungkinan sebagaian penduduk Gunung Kidul juga sudah berimigrasi ke Pacitan dan Ponorogo.

Seperti Pemanahan, ki Ageng Giring juga masih trah Majapahit. Retna Mudri, adik Brawijaya V, di peristri pemuda Pengging, Arya Bubaran, kemungkinan Arya Bubaran adalah seorang “Vasal” Kerajaan Majapahit, dari perkawinan merek lahirlah Andrayaningrat, yang kelak di angkat menjadi penguasa Pengging, bergelar adipati Pengging. 

2 Komentar

  1. xxx said,

    Senin 18 April 2016 pada 10:06 PM

    Ngetiknya parah….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: