DIKTAT BAHAA INDONESIA

BAB I

KEGIATAN PENELITIAN

 

  1. 1.    Siapakah yang Perlu Meneliti ?

Dahulu, apabila mendengar kata “ Penelitian “ orang sering membayangkan suatu kesibukan di laboratorium. Seorang ahli sedang asyik mengamati reaksi zat – zat yang dicampur di tabung reaksi, atau dalam labu didih, tabung Erlenmeyer atau alat – alat lain yang serba rumit. Dengan demikian maka penelitian adalah suatu kegiatan monopoli para ahli.

Memang apa yang dibayangkan orang – orang seperti yang disebutkan diatas ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya benar. Orang – orang dilaboratorium memang sedang melaksanakan penelitian, penyelidikan di dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam, akan tetapi penelitian bukan hanya boleh dan dapat dilakukan pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam saja. Penelitian dapat dilakukan di seluruh bidang Ilmu.

Namun demikian masih banyak orang terpelajar yang beranggapan bahwa meneliti adalah tugas para ahli, professor, doktor. Sangat di sayangkan apabila anggapan semacam itu merembes ke Mahasiswa. Pada waktu belum ada ekuivalen thesis atau ekuivalen skripsi, mahasiswa masih serius mempelajari Metode Penelitian karena akan merupakan bekal untuk mengadakan penelitian dalam rangka penulisan skripsi atau thesisnya. Setelah itu mereka diperbolehkan mengambil ekuivalen skripsi atau ekuivalen thesis, lalu beranggapan bahwa ilmu tentang penelitian tidak diperlukan lagi. Mereka lupa atau mungkin belum menyadari bahwa siapa pun boleh meneliti, bahkan dengan tegas dikatakan bahwa sarjana harus dapat meneliti, karena hanya dengan penelitianlah ilmu dapat dikembangkan secara ilmiah.

Seorang ahli masak, membuat kue dengan bahan sekian ons terigu, sekian butir telur, sekian ons gula pasir, sekian ons mentega dan bahan – bahan lain. Sehingga jadilah sebuah kue yang lezat. Ahli masak tersebut tidak puas dengan pekerjaan itu, ia selalu berfikir mencari akal bagaimana untuk mendapatkan kue yang lebih enak lagi dengan bahan – bahan yang jumlahnya sama atau bila perlu dengan bahan yang lebih sedikit sehingga biayanya lebih murah. Ahli masak ini sebenarnya juga sedang mengadakan penelitian, tetapi tidak melalui prosedur yang jelas, dan tidak melaporkan hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan.

Ahli – ahli lain, mulai dari tukang sapu, pabrik rokok, konveksi pakaian sampai ke para ahli yang menangani bom atom semuanya sedang mengadakan penelitian, walaupun prosedur dan kualitas penelitiannya berbeda – beda.

Seorang Dosen mempunyai tugas mendidik dan mengajar. Ia membantu si anak didik, ia  selalu berusaha agar kadar bantuannya dapat meningkat sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Usahanya ada bermacam – macam. Mungkin ia memberikan motivasi belajar yang banyak, mungkin ia mengganti metode yang ia gunakan untuk menerangkan dan menjelaskan, mungkin menambah alat peraga dan sebagainya. Barangsiapa ingin meningkatkan hasil untuk apa saja yang sedang ia tekuni, membutuhkan kegiatan  penelitian.

Suatu hal yang menggembirakan dunia ilmu pengetahuan adalah dengan maraknya lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk para pelajar dan mahasiswa. Kegiatan tersebut mau tidak mau harus dikaitkan dan bahkan didasarkan atas kerja penelitian. Pekerjaan meneliti ini benar – benar mengasyikkan, khusunya bagi mereka yang gemar menggeleti Ilmu pengetahuan.

  1. 2.    Bagaimana Penelitian Dilakukan ?

Pertanyaan ini mempunyai makna yang jawabannya tidak lain adalah jenis  penelitian ditinjau dari caranya.

  1. Operation Research ( action research ) adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja mengenai apa yang sedang ia laksanakan tanpa mengubah sistem pelaksanaannya. Sebenarnya antara operation research dengan action research tidaklah sama persis. Operation research menunjuk pada kegiatan yang sedang berlangsung, yakni bahwa penelitian yang dilakukan bukan menciptakan sesuatu yang baru, tetapi menempel pada suatu kegiatan yang sedang berlangsung. Action research menunjuk  pada action, artinya tindakan. Dalam penelitian tindakan ini, peneliti melakukan sesuatu tindakan, eksperimen, yang secara khusus diamati terus – menerus, dilihat  plus – minusnya, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat.

Contoh :

Seorang Dosen ingin memperbaiki cara mengajarkan sesuatu topic. Ia menuliskan hasil penelitiannya sambil terus menerus mencoba lagi cara lain. Apabila cara yang dicobanya membawa hasil yang lebih baik, Dosen tersebut merasa puas. Tahun berikutnya ia mungkin memantapkan cara tersebut, tetapi mungkin juga mencoba cara lain lagi yang menurut fikirannya akan memberikan hasil yang lebih baik.

Cara ini ada baiknya karena cara kerja dosen ini tidak terganggu, tidak ada perubahan situasi, dan yang jelas hasilnya dapat langsung digunakan.

  1. Eksperimen, dengan cara ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya sesuatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana akibatnya. Dengan kata lain, eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat antara 2 faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor – faktor lain  yang bisa mengganggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat dari suatu perlakuan.

Contoh :

Seorang Dosen ingin memperbaiki cara mengajar, maka factor – factor lain seperti materi, lingkungan, buku dan sebagainya tidak di ubah, tetap seperti sediakala, dan hanya metode atau cara mengajarlah yang di ubah. Dalam hal ini dosen dengan sengaja mengajar dengan metode tertentu secara sempurna dalam satu priode tertentu, kemudian setelah selesai hasilnya dinilai. Peneliti mengamati akibat perubahan metode mengajar. Eksperimen tentang buku juga baik dilakukan, misalnya kelas tertentu diberikan buku model A, kelas yang lain diberikan buku model B. hasil atau prestasi mahasiswa dibandingkan.

Secara ilmiah metodologis, ada 3 cara menyisihkan factor – factor noneksperimen :

  1. Disisihkan secara fisik.

Dalam bentuk percobaan – percobaan di laboratorium, yang dimaksud laboratorium dalam pengertian ini bukannya hanya laboratorium fisika, kimia atau biologi  yang merupakan tempat percobaan terhadap benda – benda saja, tetapi juga laboratorium untuk bidang ilmu yang lainnya. seorang anak dimasukkan ke dalam ruangan coba yang dikelilingi dinding kaca diberi bermacam – macam mainan, diamati bagaimana reaksi anak tersebut, dalam hal ini anak dijadikan subjek eksperimen dengan cara diisolasikan.

  1. Disisihkan secara selektif

Dalam eksperimen kedua ini factor – factor yang lain tetap ada, dan tetap berperan, tetapi kerjanya diawasi, diikuti, dipantau pengaruhnya.

Contoh

Dalam eksperimen ini misalnya dalam penerapan dua jenis metode mengajar, yakni metode diskusi dan Tanya jawab. Selama menggunakan dua metode ini factor – factor dosen, alat pelajaran, jenis mata kuliah tidak perlu disamakan tetapi penambahan dan pengurangan atau perubahan factor – factor tersebut tetap diamati.

  1. Disisihkan dengan manipulasi statistic

Yaitu memilih data yang berhubungan dengan factor yang dikehendaki saja.

Contoh.

Seorang dosen meminjamkan buku kepada kelas A tetapi tidak pada kelas B, sesudah berlangsung 1 tahun peneliti mengadakan analisi data.

  1. 3.    Apa yang Diteliti ?

Apabila kita menjawab pertanyaan ini berarti kita menjelaskan tentang objek penelitian, ruang lingkup objek penelitian adalah hal –hal apa saja yang berhubungan dengan pendidikan, baik yang terjadi di sekolah, diluar sekolah maupun kaitan antara keduanya. Pendidikan yang dilakukan di dalam keluarga juga merupakan objek penelitian pendidikan yang menarik.

Penelitian yang berobjek masalah – masalah persekolahan, bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program belajar – mengajar agar tercapai prestasi belajar secara maksimal. Penelitian ini dapat menyangkut ; kurikulum, pengajar, personal non pengajar, pengelolaan, sarana pendidikan, pembiayaan, lembaga – lembaga pendidikan dan sebagainya. Tujuan yang sama yakni menaikkan prestasi belajar dapat juga dilakukan dengan meneliti kaitan antara sekolah dan di luar sekolah.

Bagi dunia industri, perluasan pangsa pasar merupakan objek yang sangat penting untuk diteliti. Sebagai contoh, pabrik aluminium di Pittsburgh Amerika Serikat, meskipun sudah memiliki pasar yang luas selama puluhan tahun, selalu berusaha mempertahankan pasar serta terus menerus mengadakan penelitian untuk mencari tempat yang bisa dijadikan pasar.

 

BAB II

FILSAFAT ILMU DAN METODA PENELITIAN

 

  1. 1.    PENDAHULUAN

Filsafat berasal dari kata filo dan sofia, filo berarti cinta atau menyenangi dan sofia berarti bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang – orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam mencari kebenaran ini mereka mendasarkan kepada pemikiran dan logika, dan bahkan spekulasi. Hasil pemikiran kemudian menjadi tantangan bagi para ilmuwan selanjutnya dimana dalam menemukan kebenaran lebih mementingkan penemuan – penemuan empiris, logika bukan sebagai  metoda untuk menemukan atau mencari kebenaran tersebut. Melihat lahirnya ilmu adalah karena ketidakpuasan para ilmuan terhadap penemuan kebenaran oleh para filosof, maka dapat dikatakan bahwa ilmu adalah merupakan bentuk –bentuk perkembangan filsafat.

Pada dasarnya cabang – cabang ilmu berkembang dari dua cabang utama, yaitu filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu – ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu – ilmu social, selanjutnya ilmu – ilmu alam membagi diri menjadi dua kelompok yaitu ilmu alam dan ilmu hayat, ilmu- ilmu social berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu – ilmu alam dan yang mula – mula berkembang adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi dan ilmu politik. (Notoatmodjo : 4 )

  1. 2.    METODE PENELITIAN ILMIAH

Manusia pada hakekatnya selalu ingin tahu, untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut manusia sejak zaman dahulu telah berusaha mengumpulkan pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain. Semenjak adanya sejarah kehidupan dibumi ini, manusia telah berusaha mengumpulkan fakta, dari fakta – fakta ini kemudian disusun dan disimpulkan menjadi berbagai teori. Teori – teori tersebut kemudian digunakan untuk memahami gejala – gejala alam dan kemasyarakatan yang lain. Sejalan dengan perkembangan baik kualitas maupun kuantitasnya seperti apa yang telah kita rasakan dewasa ini.

  1. 3.    CARA MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN

Dari berbagai macam cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu :

  1. A.   Cara Tradisional atau non ilmiah

1)    Cara coba salah ( Trial and error )

Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah upaya pemecahannya dilakukan dengan coba – coba. Cara coba – coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lainnya. Apabila kemungkinan kedua ini gagal maka dicoba lagi kemungkinan yang ketiga dan seterusnya sampai masalah tersebut dapat dipecahkan, itulah sebabnya maka cara ini disebut metode coba – coba.

Metode ini telah digunakan orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah, bahkan sampai sekarangpun metode ini masih sering digunakan terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakkan dasar – dasar menemukan teori – teori dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Salah satu contoh dari refleksi metode ini adalah ditemukannya kina sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit malaria.

2)    Cara kekuasaan atau otorita

Di dalam kehidupan manusia sehari – hari, banyak sekali kebiasaan – kebiasaan dan tradisi – tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan – kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi lain, misalnya mengapa harus ada upacara selapanan dan turun tanah pada bayi, mengapa ibu yang sedang menyusui harus minum jamu. Kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan ini seolah – olah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin – pemimpin masyarakat baik formal maupun tidak formal, tokoh agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemuka agama maupun ahli ilmu pengetahuan.

3)    Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman adalah guru yang baik, karena pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.

Seseorang yang menderita demam dapat sembuh karena minum air daun papaya, akan mengulangi lagi cara tersebut pada waktu ia atau anggota keluarganya menderita demam, bahkan orang tersebut mungkin akan menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada masyarakat sekitarnya.

Namun untuk diperhatikan disini bahwa tidak semua pengalaman pribadi dapat menuntun seseorang untuk menarik kesimpulan dengan benar, untuk menarik kesimpulan dari pengalaman dengan benar diperlukan berfikir kritis dan logis.

4)    Melalui jalan pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berfikir manusia pun berkembang. Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah jalan fikirannya baik melalui induksi maupun deduksi.

Induksi dan deduksi merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan – pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan – pernyataan khusus ke penyataan yang umum dinamakan induksi, sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan – pernyataan umum ke pernyataan – pernyataan khusus.

  1. B.   Cara Modern atau ilmiah

Cara ilmiah  adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah. Menurut John Dewey dalam bukunya “ How we think “ (1910) mengatakan metode ilmiah adalah perpaduan proses berfikir deduktif-induktif guna pemecahan suatu masalah, langkah – langkah pemecahan suatu masalah adalah sebagai berikut :

1)    Merasakan adanya suatu masalah atau kesulitan, dan masalah atau kesulitan ini mendorong perlunya pemecahan.

2)    Merumuskan dan atau membatasi masalah / kesulitan tersebut, dalam hal ini diperlukan observasi untuk mengumpulkan fakta yang berhubungan dengan masalah tersebut.

3)    Mencoba mengajukan pemecahan masalah / kesulitan tersebut dalam bentuk hipotesis – hipotesis. Hipotesis – hipotesis ini adalah merupakan pernyataan yang didasarkan pada suatu perkiraan atau generalisasi untuk menjelaskan fakta tentang penyebab masalah tersebut.

4)    Merumuskan alas an – alasan dan akibat dari hipotesis yang dirumuskan secara deduktif.

5)    Menguji hipotesis – hipotesis yang diajukan, dengan berdasarkan fakta – fakta yang dikumpulkan melalui penyelidikan atau penelitian. Hasil pembuktian hipotesis ini bias menguatkan hipotesis dalam arti hipotesis diterima, dan dapat pula memperlemah hipotesis, dalam arti hipotesis ditolak. Dari langkah terakhir ini selanjutnya dapat dirumuskan pemecahan masalah yang telah dirumuskan tersebut.

Almack (1939) membuat batasan bahwa metode lmiah adalah suatu cara menerapkan prinsip – prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Bahasan metode ilmiah sekurang – kurangnya mencakup dua hal, yakni menyangkut masalah criteria dan langkah – langkah, criteria metode ilmiah terdiri dari :

1)    Berdasarkan fakta

2)    Informasi atau keterangan yang akan diperoleh penelitian, baik yang akan dikumpulkan maupun dianalisis hendaknya berdasarkan fakta – fakta atau kenyataan –kenyataan bukan berdasarkan pemikiran – pemikiran sendiri atau dugaan – dugaan.

3)    Bebas dari prasangka

4)    Penggunaan fakta atau data dalam metode ilmiah hendaknya berdasarkan bukti yang lengkap dan objektif, bebas dari pertimbangan  pertimbangan subjektif. Oleh sebab itu metode ilmiah ini harus bersifat bebas dari prasangka – prasangka atau dugaan – dugaan.

5)    Menggunakan prinsip analisis

6)    Fakta atau data yang diperoleh melalui penggunaan metode ilmiah tidak hanya apa adanya, fakta serta kejadian – kejadian tersebut harus dicari sebab akibatnya atau alasan – alasannya dengan menggunakan prinsip analisis.

7)    Menggunakan hipotesis

8)    Hipotesis atau dugaan sementara diperlukan untuk memandu jalan pikiran ke rah tujuan yang ingin dicapai. Dengan hipotesis peneliti akan dipandu jalan pikiranna kea rah mana hasil penelitiannya akan dianalisis.

9)    Menggunakan ukuran objektif

10) Pelaksanaan penelitian atau pengumpulan data harus menggunakan ukuran – ukuran objektif, ukuran tidak boleh dinyatakan berdasarkan pertimbangan – pertimbangan subjektif.

Sedangkan langkah – langkah umum yang digunakan dalam metode ilmiah mencakup :

1)    Memilih dan atau mengidentifikasi masalah.

2)    Menetapkan tujuan penelitian.

3)    Studi literature.

4)    Merumuskan kerangka konsep penelitian.

5)    Merumuskan hipotesis.

6)    Merumuskan metode penelitian.

7)    Pengumpulan data.

8)    Mengolah dan analisis data.

9)    Membuat laporan.

Penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis penelitian

  1. 1.   Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)

adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

  1. 2.   Penelitian historis

 menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut: atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

  1. 3.   Penelitian deskriptif

adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.

  1. 4.   Penelitian teoritis

adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. Dalam beberapa penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data.

  1. 5.   Penelitian ekperimental

adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu. Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif.

  1. 6.   Penelitian rekayasa

(termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa.

BAB III

JENIS / RAGAM PENELITIAN

 

Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan:

  1. Tujuan;
  2. Pendekatan;
  3. Tempat;
  4. Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh;
  5. Bidang ilmu yang diteliti;
  6. Taraf Penelitian;
  7. Teknik yang digunakan;
  8. Keilmiahan;
  9. Spesialisasi bidang (ilmu) garapan;

Juga ada Pembagian secara umum:

  1. Berdasarkan hasil / alasan yang diperoleh :
    1. Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
    2. Applied Reseach (Penelitian Terapan) :  mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
  2. Berdasarkan Bidang yang diteliti:
    1. Penelitian Sosial: Secara khusus meneliti bidang sosial : ekonomi, pendidikan, hukum dsb;
    2. Penelitian Eksakta<:Secara khusus meneliti bidang eksakta : Kimia, Fisika, Teknik; dsb;
  3. Berdasarkan Tempat Penelitian :
    1. Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah): langsung di lapangan;
    2. Library Research (Penelitian Kepustakaan) : Dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
    3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium) : dilaksanakan pada tempat tertentu / lab , biasanya bersifat eksperimen atau percobaan ;
  1. Berdasarkan Teknik yang digunakan :
    1. Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:
    2. Experimen Research (Penelitian Percobaan) : dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti;
  2. Berdasarkan Keilmiahan :
    1. Penelitian Ilmiah          : Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah / meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar / tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu :

a)    Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:

b)    Kemampuan untuk meramalkan : sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat / waktu lain;

Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :

1)    Purposiveness               : fokus tujuan yang jelas

2)    Rigor                              : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;

3)    Testibility                        : prosedur pengujian hipotesis jelas

4)    Replicability                    : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis

5)    Objectivity                      : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;

6)    Generalizability              :  Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna

7)    Precision                        : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat

8)    Parsimony                      :  Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya

  1. Penelitian non ilmiah   : Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.

1)     Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll;

2)    Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yangd itatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yangd ilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan / menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.

Penelitian secara umum :

  1. Penelitian Survei:

1)    Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;

2)    Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;

3)    Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;

4)    Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;

5)    Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;

6)    Penelitian ini dapat berupa :

a)    Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?

b)    Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;

c)    Penelitian Evaluasi      : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);

d)    Penelitian Eksplanasi (Penjelasan)  : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;

e)    Penelitian Prediksi      : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;

f)     Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;

  1. Grounded Research   : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan  generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.
  2. Studi Kasus     : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail  tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus / aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
  3. Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.
  4. Penelitian rekayasa  : (termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa.
No. Penggolongan Menurut Jenis/Ragam Penelitian
1. Tujuan a.   Eksplorasi;

b.   Pengembangan;

c.   Verifikasi2.Pendekatan

  1. Longitudinal;
  2. Cross-sectional;
  3. Kuantitatif;
  4. Survei;
  5. Assessment;
  6. Evaluasi;
  7. Action Research;

3.Tempat

  1. Library;
  2. Laboratorium
  3. Field

4.Pemakaian

  1. Pure
  2. Applied

5.Bidang Ilmu

  1. Pendidikan
  2. Agama
  3. Manajemen
  4. Informatika
  5. Komunikasi
  6. Administrasi
  7. Keteknikan
  8. Bahasa
  9. Hukum
  10. Sejarah
  11. Antropologi
  12. Sosiologi
  13. Filsafat

6.Taraf Penelitian

  1. Deskriftif;
  2. Eksplanasi

7.Saat terjadinya variabel

  1. Historis;
  2. Ekspos-Fakto;
  3. Eksperimen

Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
1. Kejelasan Unsur :

Tujuan, pendekatan, subjek, sampel,

Sumber data sudah mantap, rinci sejak awalSubjek sampel, sumber data tidak mantap

Dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan2.Langkah penelitian :

Segala sesuatu direncanakan sampai

Matang ketika persiapan disusunBaru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai3.Hipotesis (Jika memang perlu)

  1. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
  2. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan— a priori

Tidak menegmukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung— tentatif

Hasil penelitian terbuka

4.Disain :

Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan

Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya;5.Pengumpulan data :

Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan

Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.6.Analisis data :

Dilakukan sesudah semua data terkumpul.

Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data

TUJUAN PENELITIAN :

 

Secara umum ada empat tujuan utama :

  1. Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu;
  2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada;
  3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada;
  4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)

PERANAN PENELITIAN

  1. Pemecahan Masalah        : meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait mengkait
  2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan : meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut
  3. Mendapatkan pengetahuan / ilmu baru

PERSYARATAN PENELITIAN :

  1. Mengikuti konsep ilmiah;
  2. Sistematis : Pola tertentu;
  3. Terencana :

Penelitian dikatakan baik bila :

  1. Purposiveness      : Tujuan yang jelas;
  2. Exactitude             :  Dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti;
  3. Testability              : Dapat diuji atau dikaji;
  4. Replicability           : Dapat diulang oleh peneliti lain;
  5. Precision and Confidence            : Memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
  6. Objectivity             : Bersifat objektif;
  7. Generalization       :  Berlaku umum;
  8. Parismony             : Hemat, tidak berlebihan;
  9. Consistency          : data atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata atau ungkapan yang memiliki arti sama;
  10. Coherency                        : Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya.

PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

  1. Memilih dan atau mengidentifikasi masalah

Memilih masalah penelitian memang tidak mudah, oleh sebab itu diperlukan pemikiran – pemikiran yang cermat.

  1. Menetapkan tujuan penelitian

Pada hakekatnya adl suatu pernyataan tentang informasi ( data ) apa yang akan digali melalui penelitian tsb

  1. Studi literatur

Untuk memperoleh dukungan teoritis masalah penelitian yang dipilih. Literatur dapat berupa buku teks, hasil – hasil penelitian sebelumnya, journal-journal, dan sebagainya.

  1. Merumuskan kerangka konsep penelitian

Suatu uraian dan visualisasi konsep – konsep serta variable – variabel yang akan diukur.

Tujuan : untuk memperoleh gambaran yang jelas kearah mana penelitian itu berjalan.

  1. Merumuskan hipotesis ( jika perlu).
  2. Merumuskan metode penelitian

Mencakup jenis dan metode penelitian yang digunakan, populasi dan sampel penelitian, cara/metode dan alat ukur pengumpulan data serta rencana analisa data.

  1. Pengumpulan data

Berdasarkan cara dan alat pengumpulan data

  1. Mengolah dan analisa data

Memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya, analisis data dapat dilakukan secara manual atau dengan bantuan komputer.

  1. Membuat laporan

Dalam laporan penelitian akan disajikan data hasil penelitian tersebut.

BAB IV

PENGUMPULAN DATA DAN PEMBUATAN INSTRUMEN

  1. 1.    DATA

Data merupakan kumpulan dari nilai-nilai yang mencerminkan karakteristik dari individu-individu dari suatu populasi. Data bisa berupa angka, huruf, suara maupun gambar. Dari data ini diharapkan akan diperoleh informasi sebesar-besarnya tentang populasi. Dengan demikian, diperlukan pengetahuan dan penguasaan metode analisis sebagai upaya untuk mengeluarkan informasi yang terkandung dalam data yang dimiliki.

Data penelitian dikumpulkan sesuai dengan rancangan atau desain penelitian yang telah ditentukan. Data tersebut diperoleh melalui pengamatan, percobaan maupun pengukuran gejala yang diteliti. Data-data yang dikumpulkan merupakan pernyataan fakta mengenai obyek yang diteliti. Pada dasarnya, data dapat dikelompokkan pada berbagai macam jenis dan bagian.

  1. Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya

1)    Data Primer

Data primer adalah data yang diambil langsung dari obyek penelitian atau merupakan data yang berasal dari sumber asli atau pertama. Data ini tidak tersedia dalam bentuk file. Data primer tersebut harus dicari melalui nara sumber atau responden yaitu orang yang kita jadikan obyek penelitian atau orang yang kita jadikan sebagai sarana mendapatkan informasi maupun data.

Pencarian data primer bisa dilakukan dengan cara wawancara atau interview langsung dengan responden, melalaui telepon, email dan sebagainya. Dalam mengumpulkan data primer, biasanya peneliti menggunakan instrument penelitian yang disebut dengan kuesioner.

2)    Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang tidak didapatkan secara langsung dari objek penelitian, melainkan data yang berasal dari sumber yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Data sekunder bisa diperoleh dengan cepat dan mudah karena data ini biasanya sudah tersedia dan kita tinggal mengambil dan mengumpulkan saja. Data sekunder dapat kita kumpulkan dari perpustakaan, perusahaanperusahaan, organisasi-organisasi perdagangan, biro pusat statistik, dan kantorkantor pemerintahan seperti data dari Badan Pusat Statistik (BPS), data hasil riset, data dari perusahaan dan lain sebagainya.

  1. Jenis Data Berdasarkan Sumber Data

1)    Data Internal

Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dan sebagainya.

2)    Data Eksternal

Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.

  1. Klasifikasi Data Berdasarkan Jenis Datanya

1)    Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah jumlah pembeli pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, tinggi badan mahasiswa TI, dan lain-lain.

2)    Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna. Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dalam kemasan, anggapan para ahli terhadap bencana alam yang terjadi di Indonesia dan lain-lain.

  1. Pembagian Jenis Data Berdasarkan Sifat Data

1)    Data Diskrit

Data diskrit adalah data yang nilainya adalah bilangan asli. Contoh nilai mata uang rupiah dari waktu ke waktu dan lainsebagainya.

2)    Data Kontinyu

Data kontinyu adalah data yang nilainya ada pada suatu interval tertentu atau berada pada nilai yang satu ke nilai yang lainnya. Contohnya penggunaan kata sekitar, kurang lebih, kira-kira, dan sebagainya. Dinas pertanian daerah mengimpor bahan baku pabrik pupuk kurang lebih 850 ton.

  1. Jenis Data Menurut Waktu Pengumpulannya

1)    Data Cross Section

Data cross-section adalah data yang menunjukkan titik waktu tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 Desember 2006, data pelanggan PT. PLN bulan April 2006, dan lain sebagainya.

2)    Data Time Series (Berkala)

Data berkala adalah data yang datanya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode secara historis. Contoh data time series adalah data perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika dari tahun 2005 sampai 2006.

  1. 2.    PENGUMPULAN DATA
    1. A.   Metode Observasi

Metode observasi merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data. Metode observasi ini biasanya digunakan untuk mengetahui perilaku masyarakat secara detail.

Ada beberapa keunggulan observasi jika dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian, antara lain adalah sebagai berikut:

1)    Perilaku nonverbal : Observasi dianggap unggul dalam penelitian survey, eksperimen, atau studi dokumen, terutama dalam hal pengumpulan data khusus mengenai perilaku nonverbal.

2)    Metode survey memang lebih unggul terutama dalam hal kemampuannya mengamati pendapat orang akan suatu masalah. Hubungan sosial antar anggota masyarakat di suatu tempat bisa diamati dengan observasi. Sedangkan pada observasi, bisa dilakukan secara lebih lama dan mendalam. sedangkan pada observasi bisa lebih lama, lebih leluasa, bahkan dalam hal-hal tertentu peneliti bisa terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat.

3)    Lingkungan alami : Salah satu keunggulan lain dari observasi adalah bahwa perilaku yang terjadi di masyarakat itu benar-benar bersifat alami, tidak artifisial dan hasil rekayasa tertentu.

Dalam observasi, peneliti bisa lebih leluasa dan lebih lama dalam mengamati kondisi masyarakat secara langsung. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh pewawancara, survei, atau penelitian eksperimen. Dengan demikian, untuk mengetahui perilaku masyarakat terutama yang nonverbal, hasilnya akan lebih baik karena sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat secara sebenarnya. Sementara itu pada observasi tidak demikian, sebab yang diteliti adalah segala peristiwa yang sedang berlangsung pada saat peneliti melakukan observasi. Sementara itu observasi juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain adalah adalah sebagai berikut:

1)    Kurang terkendali (lack of control): Variabel-variabel asing (variabel lain yang secara sengaja tidak dijadikan target penelitian, atau bisa juga berupa variable tersembunyi yang hanya masyarakat tersebut yang ‘boleh’ tahu) hanya sedikit saja yang bisa diketahui oleh peneliti. Padahal barangkali variabel-variabel tersebut lah yang mungkin lebih banyak pengaruhnya terhadap data yang sedang diteliti.

2)    Sulit dikuantifikasikan: Pengukuran pada studi observasi biasanya hanya didasarkan kepada persepsi kualitatif peneliti dan bukannya didasarkan kepada kuantitas seperti yang dilakukan peneliti pada studi eksperimen dan survey. Kelemahannya adalah tidak bisa menentukan ukuran kuantitas terhadap hubungan antar variabel yang ada

3)    Peneliti memberi skor terhadap pendapat yang diberikan.

4)    Ukuran sampel kecil: Biasanya studi observasi menggunakan ukuran sample yang lebih kecil dibandingkan dengan pada studi survey, meskipun masih termasuk lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran sampel pada studi eksperimen dan kasus. Idelnya, studi observasi perlu menggunakan sebanyakbanyaknya subjek penelitian yang akan diobservasi, juga perlu banyak peneliti yang melakukannya, terutama hal ini dengan maksud untuk menghilangkan faktor subjektifitas peneliti. Jika menggunakan banyak subjek dan juga banyak pengamat, maka data hasil observasi bisa saling diperbandingkan, sehingga dari sana bisa dicek reliabilitasnya. Ini terutama sekali terjadi pada observasi yang tidak terstruktur, artinya observasi yang tidak dirancang sedemikian rupa sehingga variabel penelitian yang diobservasinya menjadi tidak tegas.

  1. B.   Wawancara

Salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam melakukan penelitian social adalah metode survei. Metode survei merupakan penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang tepat. Metode survai merupakan salah satu bentuk penelitian yang melibatkan manusia untuk memperoleh informasi. Untuk itu maka perlu disusun satu instrumen penelitian yaitu kuesioner (daftar pertanyaan) dan pedoman wawancara (interview guide). Biasanya penelitian survei mencakup wilayah yang cukup luas dan dilakukan dengan cara melakukan wawancara langsung dengan responden atau objek yang ingin diteliti dengan cara memberikan daftar pertanyaan dalam kuesioner. Atau bisa juga melalui media lain seperti penggunaan telepon, tape recorder, e-mail dan lain sebagainya.

Wawancara yang dilakukan secara langsung (tatap muka) mempunyai beberapa keuntungan yaitu pewawancara dapat meningkatkan kerjasama diantara pewawancara dengan responden serta memungkinkan responden mendapat klarifikasi dari pertanyaan secepatnya. Dalam melakukan wawancara, responden perlu diberikan insentif untuk membangun ketertarikannya dalam melakukan wawancara.

Teknik pengumpulan data survei dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang berupa tanya jawab peneliti dengan responden (narasumber). Wawancara tersebut berupa percakapan langsung (face to face) antara dua pihak atau lebih untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan untuk memperoleh data yang dapat menjelaskan ataupun menjawab suatu permasalahan penelitian. Wawancara merupakan salah satu faktor penting dalam menggali informasi dari narasumber.

Percakapan dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertayaan itu. Pertanyaan yang diajukan bisa berupa pertanyaan tertulis maupun lisan dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner. Dengan teknik wawancara yang baik dan benar diharapkan tujuan interview akan tercapai. Setiap enumerator harus mengetahui teknik wawancara yang efisien dan efektif.

Wawancara bersifat semistructure artinya pewawancara memiliki pedoman dalam melakukan wawancara. Dalam hal ini, pewawancara tidak membatasi pilihan jawaban dan tidak mendeskripsikan jenis jawaban yang diberikan. Wawancara dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended question). Biasanya wawancara yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka karena penelitian yang dilakukan bersifat eksploratif, artinya penelitian tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya dari responden.

Secara umum tujuan wawancara dalam penelitian survei adalah:

1)    Untuk mengetahui data pribadi responden

2)    Mencari informasi yang relevan dengan tujuan penelitian

3)    Membantu untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada di lapangan

Berikut ini adalah beberapa jenis wawancara yang biasa digunakan:

1)    Wawancara seleksi (screening interview) yaitu wawancara yang dilakukan untuk memilih orang atau kandidat yang paling qualified untuk masuk ke tahap seleksi selanjutnya.

2)    Wawancara dengan menggunakan media elektronik seperti audio tape atau telepon (telephone interview) yaitu wawancara yang langsung dilakukan dengan menggunakan media telepon. Wawancara ini biasanya dilakukan bila masih ada hal yang ingin ditanyakan langsung pada pihak responden.

3)    Wawancara kelompok (Panel or Group Interview) yaitu wawancara yang dilakukan pada dua atau lebih pewawancara sekaligus pada waktu yang sama.

Dalam penelitian survei, jawaban yang diberikan oleh responden sangat bergantung pada pertanyaan dan sifat serta kondisi responden itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara sangat dipengaruhi oleh ingatan responden terutama dalam menjawab hal yang berkaitan dengan data angka atau data dan peristiwa yang sudah lewat.

Ada tiga pendekatan dasar dalam mengumpulkan data kualitatif melalui wawancara, dimana tiga pendekatan itu mencakup tiga jenis persiapan, konseptualisasi, dan instrumentasi yang berbeda. Setiap pendekatan memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing melayani suatu tujuan yang berbeda. Tiga pendekatan itu adalah wawancara percakapan informal, pendekatan pedoman wawancara umum, dan wawancara terbuka yang dibakukan.

  1. C.   Angket

Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang diajukan pada seorang responden untuk mencari jawaban dari permasalahan yang diteliti. Dalam kuesioner terdapat pertanyaan, pernyataan dan isian yang harus dijawab oleh responden. Jawaban yang diberikan bias bersifat tertutup dimana alternatif jawaban telah disediakan oleh peneliti,dan ada juga jawaban terbuka dimana responden bebas menuliskan jawabannya tanpa adanya paksaan maupun jawaban yang berasal dari kombinasi keduanya yang merupakan campuran dari jawaban tertutup dan terbuka.

Kelemahan penggunaan kuesioner adalah terbatasnya mendapatkan informasi mengenai kasus-kasus yang sifatnya personal, karena peneliti hanya menanyakan sepintas saja dan biasanya hanya sekali selain itu hubungan antara peneliti dengan responden hanya bersifat sementara. Kuesioner hanya mengandalkan jawaban-jawaban sepintas dari responden, sehingga data yang didaptkan sangat bergantung kepada kualitas pertanyaannya. Jika pertanyaan dipersiapkan dengan seksama, tentu akan menghasilkan jawaban dan data yang lebih lengkap. Jika pertanyaan tidak dipersiapkan dengan baik akan menghasilkan data yang tidak akurat dan bias yang sangat tinggi.

Kuesioner yang bersifat tertutup dibuat jika peneliti menganggap bahwa peneliti telah menemukan berbagai alternatif jawaban yang tepat bagi penelitiannya dengan kata lain peneliti hanya ingin mendapatkan jawaban responden berdasarkan jawaban yang sudah disediakan saja dan bukan berasal dari jawaban lainnya. Misalnya jawaban setuju atau tidak setuju, ya atau tidak, suka atau tidak suka dan lain sebagainya.

Kuesioner yang bersifat terbuka disusun karena peneliti ingin mengetahui pendapat responden secara langsung mengenai pertanyaan yang diajukan. Misalnya bagaimana pendapat anda dengan perkembangan sistem informasi pada saat ini?

Jenis kuesioner terdiri atas dua macam yaitu kuesioner yang diisi langsung oleh responden maupun kuesioner yang diisi melalui e-mail atau telepon. Jenis kuesioner yang pertama dapat dengan baik dilakukan jika peneliti maupun responden memiliki waktu yang cukup untuk menuliskan jawabannya pada kuesioner yang diajukan atau diberikan. Kelebihan dari kuesioner ini adalah, responden dapat menanyakan langsung pada peneliti jika responden kurang mengerti dengan isi maupun maksud dari pertanyaan yang diajukan. Selain itu juga peneliti mendorong responden untuk menjawab secara benar dan jujur tanpa adanya campur tangan dari pihak lain.

Kelemahannya adalah jika jumlah respondennya banyak, maka peneliti perlu menambah tenaga pencacah. Jika sedikit, peneliti sendiri yang bisa menjadi pencacah. Jenis kuesioner kedua yaitu keesioner yang disebarkan melalui surat, telepon dan email, biasanya dilakukan jika responden memiliki tempat tinggal yang relatif jauh dari si peneliti dan tidak mungkin melakukannya secara langsung.

Kelemahan dari kuesioner ini adalah selain membutuhkan biaya yang relatif mahal, jumlah kuesioner yang kembali biasanya lebih sedikit daripada jumlah kuesioner yang diedarkan. Bila kuesioner yang kembali sedikit, maka akibatnya akan dapat mengganggu hasil penelitian terutama dalam pengolahan data karena data yang dikumpulkan tidak cukup akurat untuk diolah.

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, kuesioner merupakan salah satu alat yang penting untuk pengambilan data. Untuk membuat kuesioner bias dilihat dari sisi format pertanyaan maupun model jawaban yang diberikan. Disamping kuesioner, alat pengambilan data lainnya yang juga bisa dilakukan adalah dengan melakukan interview.

Cara-cara melakukan interview diatur secara sistematis agar dapat memperoleh informasi dan data yang berkualitas serta sesuai dengan yang diinginkan oleh peneliti. Dalam pembuatan kuesioner ini, terlebih dahulu perlu diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum disebarkan pada responden. Hal ini berguna untuk melihat apakah ada pertanyaan atau pernyataan yang tidak dimengerti oleh responden. Bila responden mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan maka kuesioner tersebut bias langsung digunakan pada penelitian yang sebenarnya. Disamping itu juga perlu diperhatikan penyusunan format pertanyaan serta model jawaban yang diberikan, karena keduanya akan sangat menentukan kualitas dan ketepatan jawaban responden.

 

  1. D.   Etnographi

Pendekatan etnographi adalah pendekatan yang memfokuskan diri pada budaya dari sekelompok orang. Pendekatan ini banyak dilakukan dalam penelitian kualitatif. Semua penelitian ini terbatas pada persoalan etnik dan lokasi geografis, tetapi sekarang telah diperluas denga memasukkan setiap kelompok dalam suatu organisasi (budaya bisnis dari suatu kelompok tertentu).

  1. 3.    TABULASI DATA

Data yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan dan diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan penelitian yang telah ditetapkan.

Pengolahan data diarahkan untuk memberi argumentasi atau penjelasan mengenai tesis yang diajukan dalam penelitian, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh. Apabila ada hipotesis, pengolahan data diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Dari data yang sudah terolah kadangkala dapat dibentuk hipotesis baru. Apabila ini terjadi maka siklus penelitian dapat dimulai lagi untuk membuktikan hipotesis baru. Data bisa didapatkan dengan cara survei langsung dilapangan, observasi dan lain sebagainya. Setelah kita mendapatkan data yang telah dikumpulkan dengan metode yang kita pilih, langkah selanjutnya adalah bagaimana cara kita mengolah data yang ada agar menampilkan hasil yang ingin kita ungkapkan. Data tersebut bisa ditampilkan dalam bentuk tabel maupun grafik untuk memudahkan kita dalam memahaminya.

Ada dua cara yang biasa digunakan oleh seseorang untuk menyajikan hasil dari sebuah studi kuantitatif. Cara yang pertama adalah membeberkan angka-angka dalam sebuah tabel atau daftar, dan cara yang kedua adalah menyajikan grafik. Sebagian besar orang lebih menyukai tampilan grafik dengan alasan bermacam-macam. Di samping lebih menarik dari segi warna dan bentuknya, dalam banyak hal penggunaan grafik juga lebih informatif.

Penyajian data selain dapat disajikan dalam bentuk tabel, juga dapat disajikan dalam bentuk gambar atau grafik. Penyajian data dalam bentuk tabel bisa disajikan dalam beberapa arah antara lain, tabel satu arah (one way table) yaitu tabel yang hanya memuat satu keterangan saja, tabel dua arah (two way table) ialah tabel yang menunjukkan hubungan diantara dua hal yang berbeda dan tabel tiga arah (three way table) ialah tabel yang yang menunjukkan pada tiga hal yang berbeda.

Penyajian data dalam bentuk gambar dapat memudahkan dalam pengambilan kesimpulan dengan cepat. Ada beberapa macam grafik antara lain grafik garis (line Chart), grafik batang (bar chart), grafik lingkaran (pie chart), grafik gambar (pictogram) dan lain sebagainya.

  1. 4.    INSTRUMEN

Pada tahap ini seorang peneliti harus melakukan identifikasi alat (tools) apa yang sesuai untuk mengambil data dalam hubungannya dengan tujuan penelitannya. Secara sederhana penelitian itu dapat diartikan sebagai cara yang harus dilakukan untuk mengetahui sesuatu yang akan dilakukan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan langkah-langkah pada metode ilmiah. Jadi pengertian dari metodologi penelitian itu dapat diartikan sebagai pengkajian atau pemahaman tentang cara berpikir dan cara melaksanakan hasil berpikir menurut langkah-langkah ilmiah.

Metodologi penelitian pada hakekatnya merupakan operasionalisasi dari cara untuk menemukan atau menyusun pengetahuan memerlukan kajian atau pemahaman tentang metode-metode kearah pelaksanaan penelitian, sehingga perlu dibedakan antara metode dan teknik Secara keilmuan, metode dapat diartikan sebagai cara berpikir, sedangkan teknik diartikan sebagai cara melaksanakan hasil berpikir.

Ada beberapa alasan kecendrungan penggunaan instrumen dalam penelitian, yaitu:

  1. Instrumen dapat membantu memperoleh data atas dasar kondisi yang telah diketahui.
  2. Instrumen berfungsi membatasi lingkungan atau ruang lingkup dengan cara tertentu, maka instrumen juga dapat digunakan untuk memperoleh data tambahan dari situasi.
  3. Instrumen dapat membuat informasi yang dapat direkam secara permanen untuk dianalisa di masa yang akan datang. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan kamera, tape recorder, begitu juga melalui tulisan.


BAB V

TEKNIK PENULISA

Sistematika Penulisan

Alternatif Pertama

1)    Peringkat 1: huruf besar semua, bold, dan diletakkan di tengah    (judul bab)

2)    Peringkat 2: huruf besar semua, bold, dan diletakkan di tepi kiri

3)    Peringkat 3: huruf besar kecil, bold, dan diletakkan di tepi kiri

4)    Peringkat 4: huruf besar kecil, italic, bold, dan diletakkan  di tepi kiri

5)    Peringkat 5: huruf kecil, kecuali huruf awal kata pertama, 2 cm dari tepi kiri, bold, dan diakhiri dengan titik

6)    Butir uraian atau contoh:

a)    Butir hierarkis, dinyatakan dengan angka dan huruf dalam kurung,   seperti (1) dan (a)

b)    Butir nonhierarkis, dinyatakan dengan bulit, seperti · dan n

Contoh

BAB II

PERINGKAT SATU

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

PERINGKAT DUA

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

Peringkat Tiga

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

Peringkat Empat

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

      Peringkat lima.

…………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

Alternatif Kedua

1)    Peringkat 1: sama dengan alternatif pertama

2)    Peringkat 2: ditandai dengan angka 2 digit dipisah dengan titik,    tetapi tidak diakhiri dengan titik, huruf besar semua, bold, dan diletakkan di tepi kiri

3)    Peringkat 3: sama dengan peringkat 2, hanya ditandai dengan 3 digit

4)    Peringkat 4: sama dengan peringkat 2, hanya ditandai dengan 4 digit

5)    Peringkat 5: sama dengan peringkat 2, hanya ditandai dengan 5 digit

6)    Butir uraian atau contoh:

a)    Butir hierarkis, dinyatakan dengan angka dan huruf dalam kurung,   seperti (1) dan (a)

b)    Butir nonhierarkis, dinyatakan dengan bulit, seperti · dan n

Contoh

BAB II

PERINGKAT SATU

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

2.1  PERINGKAT DUA

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

2.1.1  PERINGKAT TIGA

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

2.1.1.1  PERINGKAT EMPAT

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

2.1.1.1.1 PERINGKAT LIMA

…………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

Alternatif Ketiga

1)    Peringkat 1: sama dengan alternatif pertama

2)    Peringkat 2: dengan huruf besar (A, B, C, dst) memakai titik dan    ditulis dengan huruf besar kecil dan bold

3)    Peringkat 3: sama dengan peringkat 2, tapi dengan urutan angka (1, 2, 3, dst)

4)    Peringkat 4: sama dengan peringkat 2, tapi dengan urutan huruf kecil (a, b, c, dst)

5)    Peringkat 5: sama dengan peringkat 2, tapi dengan urutan angka (1, 2, 3, dst) memakai kurung tutup tanpa titik

6)    Butir uraian atau contoh:

a)    Butir hierarkis, dinyatakan dengan angka dan huruf dalam kurung,   seperti (1) dan (a)

b)    Butir nonhierarkis, dinyatakan dengan bulit, seperti · dan n

Contoh

BAB II

PERINGKAT SATU

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

A.  Peringkat Dua

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

1.  Peringkat Tiga

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

a.  Peringkat Empat

      …………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

1)  Peringkat Lima

…………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………

 

  1. 2.    Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan    
  1. Penulisan Kutipan

1)    Kutipan langsung < 40 kata

a)    Ditulis diantara tanda kutip (“ “), diikuti nama penulis, tahun dan halaman.

b)    Contoh:

Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan erat antara faktor sosial dengan kemajuan belajar”.

2)    Kutipan langsung > 40 kata

a)    Ditulis tanda kutip (“ “) secara terpisah dari teks yang mendahului

b)    Ditulis 1,2 cm dari tepi kiri dan kanan

c)    Diketik dengan spasi tunggal

Contoh:

Smith (1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut.

The ‘placebo efect’, which had been verified in previous studies, ….

3)    Kutipan yang sebagian dihilangkan

a)    Kata yang dibuang, dapat diganti dengan tiga titik

b)    Kalimat yang dibuang, dapat diganti dengan empat titik

4)    Kutipan tidak langsung

a)    Dikemukakan dengan bahasa penulis

b)    Contoh:

Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat (Salimin, 1990:13)

  1. Perujukan dengan Catatan Kaki

1)    Gunakan angka latin pada akhir suku kata rujukan

2)    Karya yang dirujuk cantumkan pada catatan kaki dan  daftar rujukan

3)    Diletakkan 2 spasi dari teks akhir

4)    Setiap bab dimulai dengan nomor 1 (satu)

5)    Identasi masuk 5 karakter di baris pertama

6)    Gunakan kata Ibid, untuk menunjuk karya dan halaman yang sama dan belum diselingi rujukan lain

7)    Gunakan kata Loc.Cit, untuk menunjuk karya dan halaman yang sama dan sudah diselingi rujukan lain

8)    Gunakan kata Op.Cit, untuk menunjuk karya yang sama tetapi halaman berbeda dan telah diselingi rujukan lain

Contoh:

3Amat Mukhadis, 1996. Statistik Nonparametrik dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, Halaman 9.

      4Ibid

        5Ibid, halaman 10

6Mulyadi, 1995. Psikologi Sosial. Surabaya: Usaha Nasional,Halaman 15.

        7Amat Mukhadis. Loc.Cit

8Mulyadi. Op.Cit. halaman 25

  1. Daftar Rujukan

Meliputi (1) nama penulis ditulis dengan urutan nama akhir,    nama awal dan nama tengah, tanpa gelar akademik, (2) tahun penerbitan, (3) judul termasuk anak judul, (4) kota tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit

Identasi pada baris kedua masuk 5 karakter

Contoh:

Strunk, W.Jr. 1979.  The Elements of Style (3rd ed). New York: Macmillan

  1. 3.    Tabel dan Gambar
    1. Tujuan Penyajian Tabel:

1)    Mansistematisasikan data statistik

2)    Mamfasilitasi pemahaman dan penafsiran data

3)    Mamfasilitasi pencarian hubungan antardata

  1. Prinsip Penyajian Tabel:

1)    Tampilan sederhana dan jelas

2)    > ½ halaman disajikan pada halaman tersendiri

3)    < ½ halaman diintegrasikan dengan teks

4)    Diberikan identitas (nomor dan nama)

5)    >1 halaman, bagian kepala tabel diulang pada halaman berikutnya

6)    Setiap huruf pertama nama tabel ditulis kapital kecuali kata hubung

7)    Kata tabel ditulis , diikuti nomor dan nama tabel

8)    Jika nama lebih dari satu baris, baris kedua dst. dimulai sejajar dengan huruf huruf awal baru

9)    Judul tabel tidak diakhiri dengan titik (.)

10) Jarak tiga spasi antara teks sebelum dan sesudah tabel

11) Dibuat hanya garis horisontal saja, vertikal tidak tampak

12) Ditulis sumbernya bila tabel kutipan

Contoh Penyajian Tabel:

Tabel 1.1 Prosentase Siswa yang Belum Menguasai Tujuh Subkonsep             Pecahan

No.            Subkonsep                              Ujung Pandang *)       Kabupaten Sinjai

  1. Part-group, congruent parts            31,2                              42,4
  2. Part-whole, congruent parts            39,3                              41,4
  3. … dst

Sumber: Suradi, 1998:249

*) Wilayah Kotamadya

  1. Tujuan Penyajian Gambar:

1)    Visualisasi data/pernyataan kualitatif

2)    Visualisasi hubungan antarvariabel

3)    Penyajian data statistik dengan grafik

  1. Prinsip Penyajian Gambar:

1)    Judul gambar di bawah presentasi gambar

2)    Cara penulisannya sama dengan penulisan tabel

3)    Gambar harus jelas dan komunikatif

4)    Penggunaan gambar proporsional

5)    Gambar > 1 halaman disajikan pada halaman tersendiri

6)    Penyebutan adanya gambar seharusnya sebelum sajian gambar

7)    Gambar diacu dengan nomor dan nama gambar

8)    Penomoran gambar dengan angka Arab

  1. 4.    Pencetakan
  1. Kertas HVS putih, ukuran A4 (21 x 29,7 cm) atau Kuarto (21 x 28 cm)
  2. Kertas minimal 70 gram
  3. Bidang pengetikan 4 cm dari atas, lainnya 3 cm
  4. Tiap halaman tidak berisi lebih dari 26 baris
  5. Spasi Ganda
  6. Naskah Akhir dicetak dengan printer deskjet, inkjet atau laser
  7. Jenis huruf Times New Roman
  8. Ukuran huruf:

1)    12 point untuk judul bab, judul subbab, abstrak, lampiran, dan daftar rujukan

2)    10 point untuk kutipan blok, judul tabel dan gambar catatan kaki

  1. Modus huruf:

1)    Normal

Teks induk, abstrak, tabel, gambar, catatan, lampiran

2)    Italic

Kata nonIndonesia, istilah yang belum lazim, bagian penting

3)    Garis Bawah

Tidak diperbolehkan

BAB VI

MEMBUAT LAPORAN ILMIAH

  1. 1.    PENDAHULUAN

Penulisan ilmiah biasanya merujuk pada penulisan yang berlandaskan pada metodologi penelitian yang mengungkapkan fakta dan bukti-bukti untuk mendukung kebenaran hasil dari perumusan masalah.

Bahasa yang digunakan dalam penulisan ilmiah biasanya memilih kata yang baku sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan) dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan agar makna dari kalimat yang ingin disampaikan jelas dan tepat.

  1. 2.    STRUKTUR PENULISAN

Dalam kenyataan banyak ditemukannya bermacam-macam penggunaan bahasa dalam penulisan ilmiah. Kenyataan ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang sehingga sering ditemukan masalah penggunaan bahasa baku dan nonbaku dalam penulisan karya ilmiah. Tata bahasa ini nantinya akan terkait dengan kalimat yang akan di buat, dimana klimat yang dihasilkan dapat memenuhi syarat sebagai kalimat yang benar. Untuk mengenali apakah suatu kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat yang benar (gramatikal), maka seseorang harus memiliki wawasan bahasa yang baik agar dapat mengenali kalimat-kalimat yang dihasilkan orang lain apakah gramatikal atau tidak.

Untuk mengecek apakah kalimat yang kita hasilkan memenuhi syarat kaedah tata bahasa karena kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan (S, P, O, Pel, K) sehingga setiap kalimat yang dituliskan dapat dibaca dengan jelas dan mudah dipahami, tidak timbul kerancuan.

Setiap kalimat yang dituliskan hanya memiliki satu makna. Dalam membuat suatu tulisan, alur pikir seseorang tersebut harus mengalir dan tergambar dengan jelas apa yang ingin disampaikannya. Best practice, dalam setiap bab sekurang-kurangnya terdiri dari tiga sub bab dan setiap bab seyogyanya terdiri dari tiga paragraf. Pada paragraf pertama berisikan pengantar dari apa yang akan dibahas dari sub bab tersebut. Paragraf ke dua merupakan isi dari sub bab dan paragraf ke tiga merupakan penutup dari sub bab yang sekaligus mengantarkan pada sub bab berikutnya.

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Menguraikan mengapa penulis sampai kepada pemilihan topik permasalahan yang bersangkutan

1.2. Masalah dan Pembatasan Masalah

Memberikan batasan yang jelas bagian mana dari persoalan yang dikaji dan bagian mana yang tidak

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Menggambarkan hasil-hasil yang diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti

1.4. Metode Penelitian

Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data dan cara analisa data.

1.5. Jenis-Jenis Metode Penelitian

a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.

b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.

c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.

1.6. Sistematika Penulisan

Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Ilmiah.

Selain dalam tata cara penulisan paragraf, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah dalam setiap paragraf harus menggambarkan satu pokok pikiran yang jelas. Setiap paragraf terdiri atas tiga kalimat yang berisikan pengantar kalimat, isi paragraf dan kalimat penutup yang merupakan pengantar untuk kalimat berikutnya. Dengan demikian setiap satu karya ilmiah dari halaman awal hingga akhir merupakan satu kesatuan yang utuh satu dengan yang lainnya.

Contoh:

Penulisan Ilmiah dapat dijadikan sebagai bahan latihan bagi mahasiswa dalam menuangkan alur pemikiran logis dari hasil suatu analisis akademis yang menghasilkan sebuah karya intelektual diri mahasiswa itu sendiri ke dalam sebuah tulisan. Intelektualitas seseorang sedikit-banyaknya dapat dibaca dari tulisannya. Tulisan yang sulit dimengerti, sulit diikuti alur ceritanya, dan tidak terstruktur menjadikan ia dianggap tidak intelek. Karenanya, sebelum terjun ke masyarakat (dunia kerja), setiap mahasiswa setidaknya pernah melakukan sekali saja penulisan ilmiah, agar ia dapat mengerti bagaimana ia harus menuangkan hasil pemikirannya ke dalam tulisan. Hal ini akan menunjang karirnya, karena dalam berkarir, seorang pegawai harus lihai membuat segala macam bentuk laporan kepada pimpinannya.

Subjek adalah unsur pokok yang terdapat dalam sebuah kalimat disamping unsur predikat. Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata tanya siapa. Jika subjek kalimat bukan manusia, biasanya digunakan kata tanya apa. Yang perlu diingat adalah bahwa subjek tidak didahului oleh preposisi seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek. Preposisi adalah pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di dalamnnya33.

Contoh:

 Dari hasil percobaan itu membuktikan bahwa panas matahari dapat dijadikan sebagai sumber energi.

Selain subjek, predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat. Predikat sebagai suatu kalimat memiki beberapa peran diantaranya (1) pernyataan (berita), (2) perintah, (3) pernyataan atau (4) seruan. Menurut kaedah ejaan, kalimat yang menyatakan pernyataan ditandai dengan titik (.) sebagai terminal terakhir, sedangkan kalimat perintah diakhiri dengan tanda tanya (?), dan kalimat seruan diakhiri dengan tanda seru (!).

Bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan mengapa dan bagaimana adalah predikat kalimat.

Objek merupakan unsur kalimat yang dapat diperlawankan dengan subjek. Unsur kalimat ini wajib dalam susunan kalimat yang berpredikat verba aktif, pada umumnya berawalan me-, tidak terdapat dalam kalimat pasif ataupun kalimat intransitif, berpredikat verba berawalan ber-, ke-an.

Objek hanya terdapat pada kalimat aktif intransitif, yaitu kalimat yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat dan objek.

Contoh:

George Brizet meraih Grand Prix de Rome

S P O

Pelengkap dan objek memiliki kesamaan dalam kalimat yaitu (1) kedua unsur kalimat bersifat wajib (harus ada yang melengkapi makna verba predikat kalimat), (2) kedua unsur kalimat menempati posisi di belakang predikat dan (3) kedua unsur kalimat tidak didahului preposisi.Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap di belakang predikat kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap.

Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang sesuatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang temapt, waktu, cara, sebab dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa atau anak kalimat. Keterangan berupa frasa ditandai oleh preposisi seperti, di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga.

Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif

Orang sering tidak menyadari bahwa kalimat-kalimat yang digunakan sebenarnya berada di garis batas di antara bentuk aktif dan pasif. Sebuah pernyataan dikatakan kalimat aktif, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat sebagai kalimat aktif; dan dikatakan kalimat pasif, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat sebagai kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat dasar, sedangkan kalimat pasif merupakan kalimat ubahan dari kalimat aktif. Penglihatan aktif dan pasif dalam kalimat ini sebenarnya bertolak dari kerangka pemikiran relasi antara subjek dan predikat yang dilihat dari segi peran apa yang dilakukan oleh subjek terhadap perbuatan yang dinyatakan pada predikat. Jadi jika subjek suatu kalimat merupakan pelaku perbuatan yang dinyatakan pada predikat, kalimat itu disebut kalimat aktif.

Contoh:

Beberapa bank memberikan kemudahan permintaan kredit kepada nasabah.

S P O K

Jika subjek kalimat tidak berperan sebagai pelaku, tetapi sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat, kalimat itu disebut kalimat pasif. Kalimat semacam itu merupakan kalimat ubahan dari kalimat aktif. Hal itu dilakukan dengan pengubahan unsur objek kalimat aktif menjadi subjek kalimat pasif34.

Contoh:

Kemudahan permintaan kredit diberikan oleh beberapa bank kepada para nasabah

S P O K

Kalimat yang tidak gramatikal banyak ditemukan karena banykanya penggunaan kata yang tidak tepat. Di dalam penyusunan kalimat diperlukan kecermatan dalam memilih kata supaya kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik.

Bidang pemilihan kata itu disebut dengan diksi. Jadi kesalahan diksi ini meliputi kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan kata.

Pemakaian kata yang tidak tepat

Ada beberapa kata yang digunakan secara tidak tepat. Kata dari atau daripada sering digunakan secara tidak tepat.

Contoh:

Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha (salah).

Hasil penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha (benar).

Kalimat tesebut tidak tepat karena kata daripada digunakan untuk membandingkan dua hal. Misalnya tulisan itu lebih baik daripada tulisan saya. Seharusnya kata daripada pada kalimat itu harus dihilangkan.

a. Penggunaan kata berpasangan

Ada sejumlah kata yang penggunaannya berpasangan (disebut juga konjungsi korelatif), seperti baik…maupun…bukan…melainkan…tidak…tetapi…antara…dan.

Contoh:

Baik pedagang ataupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli (salah).

Baik pedagang maupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli (benar).

b. Penggunaan dua kata

Dalam kenyataan terdapat penggunaan dua kata yang makna dan fungsinya kurang lebih sama. Penggunaan dua kata secara serempak ini tidak efisien. Kata-kata yang sering di pakai secara serempak itu, bahkan pada posisi yang sama, antara lain adalah merupakan, agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, atau daftar nama-nama.

Contoh:

Peningkatan mutu tersebut memerlukan keterlibatan para ahli dalam berbagai bidang ilmu, seperti misalnya ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli komunikasi dan lain-lain. (salah)

Peningkatan mutu tersebut memerlukan keterlibatan para ahli dalam berbagai bidang ilmu, seperti ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli komunikasi dan lain-lain. (benar)

c. Penghubung Antarkalimat dan kata Maka

Kata makasering menyertai ungkapan penghubung antarkalimat, seperti sehubungan itu

maka, oleh karena itu maka, dengan demikian maka, setelah itu maka.

Contoh:

Sehubungan dengan itu maka suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan. (salah)

Sehubungan dengan itu, suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya

terandalkan. (benar)

d. Peniadaan Preposisi

Di dalam penggunaan bahasa, orang sering meniadakan unsur preposisi yang menyertai kata kerja.

Contoh:

Penambahan daya tampung tergantung fasilitas yang tersedia. (salah)

Penambahan daya tampung bergantung kepada fasilitas yang belajar. (benar)

9.2. Proses Menulis

Proses penulisan terdiri dari beberapa tahapan diantaranya adalah perencanaan (planning), pembuatan draft (drafting), revisi (revising) dan proses penulisan laporan (working within the process).

Perencanaan menulis (drafting) dilakukan dengan melakukan observasi dalam menulis.

Observasi yang dilakukan bertujuan untuk melihat kejadian, eksplorasi, membuat diagram, konseptualisasi (spekulasi). Selain itu perencanaan menulis juga bias dilakukan dengan melakukan ‘penelitian’ dalam menulis, membuat pertanyaan, melakukan interview, dan membaca referensi. Perencanaan menulis merupakan perpaduan antara penyusunan strategi dan pengumpulan referensi.

Setelah perencanaan menulis langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membuat draft (drafting). Dalam pembuatan draft perlu dibuat ‘outline’ penulisan, struktur tulisan dan juga pola tulisan. Untuk membuat draft ini, gunakan semua bahan yang diperoleh dari langkah perencanaan.

Membuat hipotesis, atau tema sentral tulisan. Perlu dikaji apa yang menjadi harapan dari tulisan yang akan dibuat, apakah bahan bacaan yang dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah hipotesi yang ditulis sudah cukup jelas.

Discovery draft akan ada temuan baru mengenai subjek, audience, dan tujuan dari tulisan. Pengembangan, penyusutan, dan pertukaran ide tersebut antara lain membuat diskriptif outline dengan cara melakukan penilaian tentang apa yang telah ditulis dalam draft, menyatukan tulisan yang efektif, menyusun outline secara formal dengan cara menentukan bagian-bagian utama tulisan, menentukan sub-bagian, dan menentukan bentuk akhir dari draft, dan yang terakhir adalah melakukan revisi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merevisi suatu tulisan ilmiah yaitu teliti kembali apa yang telah ditulis dan perhatikan siapa nantinya yang akan membaca tulisan tersebut (perhatikan tulisan anda dari perpesktif lain), baca kembali tulisan yang telah dibuat sambil melakukan revisi (bukan proofreading), tentukan kekuatan dan kelemahan dari subjek yang ditulis, pertajam persepsi mengenai pembaca, baca subjeknya. Subjek yang dimaksud antara lain alasan pemilihan subjek, mudah atau tidaknya menemukan subjek, apa yang membuat subjek menjadi istimewa, apa yang menarik dari subjek, apakah tulisan yang dibuat tidak terlalu panjang.

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang membangkitkan acuan dan makna yang sama di benak pendengar atau pembaca dengan yang ada di benak pembicara atau penulis.

Kalimat yang efektif ditentukan oleh keterpaduan kalimat yang mengacu pada penalaran (deduksi, induksi, top-down, bottom-up) dan juga koherensi dari kalimat tersebut yang mengacu pada hubungan timbal-balik antara kalimat-kalimat.

Terdapat beberapa hal yang dapat mengganggu koherensi kalimat, antara lain:

1. Tempat kata (misalnya, pekan olah raga bekas penyandang kusta nasional)

2. Pemilihan dan pemakaian kata (misalnya memilih kata depan atau kata penghubung yang salah: Dari hasil perhitungan…..)

3. Memilih dua kata yang kontradiktif atau medan maknanya tumpang tindih (contoh, banyak penderita-penderita …. suatu ciri-ciri yang didapatkan……)

4. Menggunakan kata yang tidak sesuai (misalnya, walaupun banyak artikel berpendapat…..)

5. Menggunakan nama atau istilah yang benar tetapi penulisannya keliru (Contoh, Poison (Poisson) distribution)

Pengejaan (spelling).

1. Konsistensi:

Spelling, termasuk hypenation, harus konsisten dalam seluruh tulisan, kecuali dalam kutipan, di mana spelling dari tulisan aslinya dipertahankan, terlepas apakah spelling tersebut benar atau salah.

2. Pembagian kata (word division)

Pembagian kata sebaiknya dikonsultasikan dengan kamus, sehingga anda tahu dimana sebaiknya suatu kata bisa dipenggal

3. Kata-kata asing (foreign words)

Apabila anda menyitir suatu kata asing, maka anda harus menuliskannya persis sebagaimana tulisan tersebut ditulis

Tanda baca bertujuan untuk memastikan kejelasan, dan readibility suatu tulisan. Tanda baca juga membantu untuk memperjelas struktur kalimat, memisahkan beberapa kata,dan mengelompokkan yang lain. Selain itu tanda baca dapat menambahkan makna

pada tulisan. Tanda baca yang umum dipakai: (,), (;), (:), (.), (?), (!). Kalimat yang terlalu banyak menggunakan tanda baca, sering kali menandakan kalimat tersebut harus ditulis kembali.

9.3. Pembuatan Karya Ilmiah

Penulisan karya ilmiah merupakan tahapan dari keseluruhan proses atau tahapan yang ada dalam unsur penelitian. Menuangkan hasil penelitian ke dalam sebuah tulisan merupakan hal yang mutlak bagi seorang peneliti. Karya ilmiah ini harus bersifat ilmiah dan ditulis sesuai dengan kaedah-kaedah penulisan ilmiah menurut metodologi yang baik dan benar.

Dalam menyusun sebuah laporan karya ilmiah maka kalimat-kalimat yang di susun dalam karya ilmiah tersebut haruslah merupakan kalimat yang baik. Agar pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima dengan baik seperti yang kita inginkan, maka katakata yang digunakan harus berupa pilihan kata yang baik sesuai dengan konsep pesan yang akan disampaikan.

Berikut disajikan ciri-ciri bahasa ilmiah:

a. Bahasa Ilmiah harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar ataupun mendua. Contoh:”penelitian ini mengkaji teknik pentajaman objek yang efektif dan efisien”

b. Bahasa Ilmiah mendefinisikan secara tepat istilah, dan pengertian yang berkaitan dengan suatu penelitian, agar tidak menimbulkan kerancuan

c. Bahasa Ilmiah itu singkat, jelas dan efektif.

Contoh: ”tulisan ini (dilakukan dengan maksud untuk) membahas kecendrungan teknologi informasi menjelang abad ke-21”.

Catatan: kata-kata yang didalam kurung sebaiknya dihilangkan.

Penulisan laporan penelitian dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal antara lain yaitu agar dapat digunkan sebagai keperluan studi akademis diperguruan tinggi, untuk keperluan perkembangan ilmu pengetahuan, untuk keperluan suatu lembaga tertentu, dan dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan publikasi ilmiah35. Berikut ini disajikan gambar bagaimana proses menulis karya ilmiah itu dilaksanakan.

Dalam menyajikan laporan atau karya ilmiah maka perlu diperhatikan cara penyajian berdasarkan kerangka laporan maupun daftar isi dari laporan tersebut. Berikut ini adalah contoh kerangka laporan umum yang biasa digunakan oleh peneliti. Bagian utama penulisan karya ilmiah antara lain memuat bagian latar belakang dan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, ruang lingkup, metode penelitian, tinjauan pustaka, hasil dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Secara umum kerangka bagian utama kertas karya memuat hal-hal seperti ditunjukkan pada Gambar 9.1. berikut ini.

JUDUL

ABSTRAK

BAB 1: PENDAHULUAN

1.7. Latar Belakang dan Masalah

1.8. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.9. Ruang lingkup

BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3: METODE PENELITIAN

BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Dalam membuat susunan penulisan karya ilmiah ada lima hal pokok yang harus diperhatikan, yaitu:

a. Judul Penelitian

Judul tulisan karya ilmiah hendaklah singkat, spesifik, dan jelas. Setiap judul yang diajukan harus mempunyai latar belakang masalah yang memang memerlukan pemecahan dan sebaiknya menggambarkan cakupan dan isi yang sedang diteliti. Judul yang disampaikan sebaiknya mudah dipahami dan terdapat kesesuaian antara judul dengan karya ilmiah yang akan ditulis. Judul harus menggunakan kata-kata yang jelas, tandas, pilah-pilah, literer, singkat, deskriptif..

Judul juga harus mampu menampilkan suatu ketertarikan agar orang yang membaca judul tersebut merasa tertarik untuk membaca isinya. Berikut disajikan contoh judul penelitian dalam bidang ilmu komputer:

– Perancangan IT Governance untuk Mendukung Unjuk Kerja Lembaga Penelitian Pemerintah

– Studi Perbandingan Perhitungan Biaya Free Open Source Software (Linux)

Dengan Proprietary Software (Microsoft) Pada Lembaga Pemerintah Republik Indonesia

b. Abstrak

Merupakan ringkasan yang lengkap dari penelitian. Abstrak mencakup: “problem statements”, metode, hasil, kesimpulan. Abstrak yang dibuat sebaiknya menggambarkan isi tulisan. Abstrak biasanya disajikan dalam satu paragraf, tanpa menampilkan bentuk grafik, gambar, singkatan maupun pengacuan pada pustaka.

Dalam abstrak harus tergambarkan dengan jelas apa yang menjadi permasalahan dalam penelitian. Selain itu, dalam abstrak terdapat keterkaitan antara tema dengan masalah yang akan dibahas.

Dibawah abstrak biasanya diberikan kata kunci (key word) yang bisa berasal dari judul, abstrak maupun isi tulisan. Kata kunci tersebut merupakan kata-kata yang paling sering dipakai untuk mengetahui informasi mengenai topik yang akan disajikan.

Abstrak merupakan rangkuman dari isi tulisan dalam format yang sangat singkat. Untuk makalah, biasanya abstrak itu hanya terdiri dari satu atau dua paragraf saja.

Sementara itu untuk thesis dan tugas akhir, abstrak biasanya dibatasi satu halaman. Isi dari abstrak tidak perlu panjang lebar dengan latar belakang, tetapi cukup langsung kepada intinya saja.

c. Pendahuluan

Pendahuluan berisikan latar belakang penelitian, perumusan masalah, manfaat dan tujuan penelitian (purpose of study) serta batasan penelitian (limitation of study).

Pendahuluan dalam penelitian menguraikan latar belakang mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan. Latar belakang penelitian meliputi hal-hal yang mendorong mengapa penelitian tersebut dilakukan. Latar belakang harus diuraikan secara jelas dengan didukung oleh data atau penalaran yang mantap. Kejelasan latar belakang akan memudahkan dalam menetapkan perumusan masalah.

Perumusan masalah menguraikan rumusan masalah yang mencakup konsep, hipotesis, pertanyaan penelitian (research question), variable, dan asumsi yang digunakan dalam penelitian. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan mengidentifikasi pertanyaan dalam penelitian agar lebih fokus penelitian yang akan dilakukan serta menghindari pengumpulan data yang berlebihan atau data yang tidak dibutuhkan. Identifikasi research question (pertanyaan dalam penelitian) ini juga berguna untuk membantu dalam merumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Selain itu, perlu dilihat apakah masalah yang diungkapkan secara eksplisit dan efektif atau sejauh mana masalah yang digarap relevan dengan “state of the art” dari disiplin ilmu komputer.

Manfaat penelitian harus ditulis secara jelas, dan perlu diperhatikan apakah manfaat tersebut berupa manfaat praktis dan teoritis. Tujuan penelitian dapat berupa penjajakan, pembuktian, penerapan teori, atau pembuatan prototipe. Tujuan penelitian perlu dituliskan secara jelas dan harus ada keterkaitan antara tujuan penelitian dengan masalah yang diteliti. Batasan penelitian menguraikan keterbatasan parameter parameter yang dipakai, dikarenakan oleh metode dan setting penelitian yang dipakai.

d. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka merupakan suatu kerangka konsep untuk melakukan analisis fakta yang dikumpulkan dalam penelitian atau pengkajian terhadap suatu permasalahan yang diambil. Sumber-sumber rujukan (buku, jurnal, majala, dan lain sebagainya) hendaknya berasal dari sumber terbaru dan relevan dengan topik penelitian. Tinjauan pustaka ini berisikan sejauh mana originalitas dan aktualitas penelitian tersebut.

Tinjauan pustaka berguna untuk membahas perkembangan terbaru dalam area penelitian yang bersangkutan. Selain itu juga membahas “general agreement atau disagreement” diantara peneliti. Tinjauan pustaka merupakan cara untuk menganalisis, mensintesis, meringkas, serta membandingkan hasil-hasil penelitian yang satu dengan yang lainnya. Tinjauan pustaka ini telah diuraikan pada bab 3.

e. Metode Penelitian

Metode penelitian menguraikan secara rinci tentang metode yang akan digunakan pada proses penelitian. Uraian dapat mencakup variabel dalam penelitian, model yang digunakan, rancangan penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data. Metode penelitian menguraikan tentang bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan; penentuan subjek penelitian; bahan, alat, dan prosedur yang digunakan; menguraikan teknik teknik yang dipakai; menjelaskan analisis data yang dipakai; serta tujuannya agar orang lain bisa melakukan pengulangan terhadap penelitian yang sama.

Dalam melaksanakan penelitian, metode dan desain penelitian harus sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian. Metode Penelitian yang dipilih harus relevan dengan masalah yang akan disampaikan dan perlu juga diperhatikan dasar dari pemilihan metode yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Dalam bab metodologi penelitian ini juga diuraikan kerangka teori yang mengemukakan uraian tentang teori yang terkait dengan kegiatan penelitian. Kerangka pemikiran berisikan butir-butir yang ada dalam pendahuluan disampaikan secara eksplisit dalam bentuk subjudul. Setelah itu perlu juga diatur desain penelitian yang akan dilaksanakan dalam penelitian untuk memilih metode dan teknik yang sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan. Metode dan teknik penelitian tersebutkemudian disusun menjadi rancangan penelitian.

f. Hasil dan Pembahasan

Pembahasan biasanya membahas penemuan dari hasil penelitian, mengintegrasikan penyajian, pengolahan, dan interpretasi, serta membuat outline dari hasil pengolahan data seperti tabel, grafik, gambar dan lain sebagainya. Hasil dan pembahasan ini merupakan tempat bagi penulis untuk mengekspresikan ide, dan kreativitasnya terhadap penemuan yang didapatkan dari hasil penelitian. Selain itu, hasil dan pembahasan juga mengintegrasikan penyajian, pengolahan dan interpretasi dengan membuat outline dari hasil pengolahan data seperti tabel, grafik, gambar, bagan, dan lain sebagainya.

Dalam membuat tulisan pada hasil dan pembahasan yang perlu diingat adalah jangan menulis pembahasan panjang lebar tetapi buatlah kalimat dengan berargumen secara logis agar hasil penelitian maupun inti dari penelitian yang ingin diuraikan tidak terkesan umum dan mengena dengan apa yang ingin disampaikan. Pendapat maupun tulisan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya tidak perlu diulang kembali, tetapi cukup diacu seperlunya saja. Untuk mengetahui seberapa besar penelitian yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya, maka perlu dijabarkan dengan seksama.

g. Kesimpulan dan Saran

Menguraikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian ini dan saran yang berisikan rekomendasi untuk melanjutkan segala sesuatu yang belum dilaksanakan pada penelitian sebelumnya. Review hasil penelitian, review kelemahan-kesalahan, rangkum

kesimpulan, “future research”.

Dalam kesimpulan, cobalah untuk mereview kembali temuan hasil penelitian dan hubungkan temuan dengan hasil penelitian sebelumnya, serta kaitkan hasil temuan dengan implikasi teoritis dan jelaskan bagaimana temuan tersebut bisa memperluas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sedangkan saran yang akan dikemukakan dalam penulisan ilmiah sebaiknya ditujukan untuk mengatasi dan membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang diteliti, selain itu juga berkaitan dengan hal-hal yang ingin dibahas serta adanya kemungkinan untuk dilaksanakan atau diterapkan.

h. Daftar Pustaka

Hampir seluruh penelitian dibangun berdasarkan penelitian yang sebelumnya. Para peneliti biasanya mulai dengan membaca literatur yang berkaitan dan mendapatkan ide dari literatur-literatur tersebut. Dalam menyajikan hasil kerjanya, maka para peneliti tersebut memberikan acknowledge kepada para pendahulunya dengan menuliskan sumber dokumen tersebut pada bagian daftar bacaan. Daftar pustaka berisi daftar sumber rujukan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah.

Daftar pustaka ini biasanya berisikan perbendaharaan kepustakaan yang benar-benar diacu dalam pembuatan karya ilmiah tersebut. Yang perlu diingat adalah apa yang telah dicantumkan dalam isi tulisan terkait dengan penyitiran pada dokumen orang lain harus dicantumkan pada daftar pustaka untuk menghindari terjadinya plagiat (jangan sampai ada pustaka yang diacu tetapi tidak terdaftar pada daftar pustaka atau sebaliknya). Cara

penulisan daftar pustaka ini diurut ke bawah menurut abjad nama akhir (last name) penulis atau pengarang pertama dan tahun penerbitannya. Penulisan daftar kepustakaan sebaiknya mempedomani panduan penulisan sitasi bibliografi yang ada.

Dalam menulis daftar pustaka gelar akademis pengarang tidak boleh dicantumkan, dan biasanya daftar pustaka disusun secara alpabet sesuai dengan Style dalam penulisan pustaka acuan (daftar pustaka) seperti APA (American Psychology Association) dan MLA (Modern Language Association) seperti yang telah diuraikan pada Bab 3 tentang penyitiran (sitasi).

DAFTAR PUSTAKA

Masri Singarimbun, Metodologi Penelitian Survey, 1989, LP3ES, Jakarta.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 1997, Rineka Cipta, Yogyakarta.

Soekidjo Notoatmodjo, Metodologi Penelitian, 1993, Rineka Cipta, Yogyakarta.

Zainal A. Hasibuan, Metodologi Penelitian di Bidang Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Konsep, Metode Teknik dan Aplikasi, 1997, Fasilkom UI, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: