Mitos Ratu Pantai Selatan

DALAM mitos masyarakat Jawa, Gunung Merapi sering dikaitkan kekuasaan Ratu Pantai Selatan yang cantik molek, namun memendam bahaya dan penuh misteri.


Masyarakat setempat, meyakini ada hubungan gaib antara pusat kerajaan (Keraton Jogya) di tengah-tengah dengan Merapi di Utara dan dan Samudera Indonesia yang dikuasai Ny Roro Kidul di Selatan.

Berbagai upacara pada saat-saat tertentu, seperti menabur bunga dan mengantar sesaji dilakukan di sekitar kawah Merapi. Ritual seperti itu yang dikoordinasikan kerabat Keraton, juga secara berkala dilakukan di Pantai Selatan dengan melarung sesaji, dan upacara lainnya.

Ada keyakinan, apa yang terjadi di Merapi, punya hubungan tertentu dengan pusat kekuasaan (Keraton) dan Sang Penguasa Laut Selatan, demikian sebaliknya.

Karena itu arsitektur tata kota kerajaan Jogyakarta diatur sedemikian rupa untuk mencerminkan hubungan tersebut, sehingga jika dari salah satu sudut Keraton kita mengarahkan pandang ke lurus ke utara, puncak gunung ini tampak jelas.

Pada masa silam, raja (Sultan) cukup duduk di balairung jika ingin menatap puncak Merapi. Konon karena itu pula hingga kini Pemda Yogyakarta tidak mengizinkan ada bangunan bertingkat yang bisa menghalangi arah pandang dari Keraton ke Merapi.

Di luar semua mitos dan kepercayaan itu, Merapi adalah satu di antara fenomena alam yang menarik perhatian dunia. Gunung berketinggian 2.968 meter di atas muka laut ini tak cuma menarik bagi banyak wisatawan, tetapi juga jadi objek studi para ahli vulkanologi dunia.

Merapi termasuk gunung yang paling aktif di dunia. Bentuk atau tipe letusannya sangat spesifik, karena letusan dan luncuran awan panasnya berlangsung sepanjang tahun, dan “letusan” besarnya terjadi dalam jeda (interval) lima sampai sepuluh tahunan.

Letusan jenis ini mula-mula hanya ditemui dalam kasus Merapi, sehingga kalangan ahli gunung api dunia memasukkan letusan jenis ini di antara delapan tipe letusan gunung api yang umum dikenal.

Dengan karakteristik seperti itu ancaman Merapi paling sulit diantisipasi karena arah serta frekuensi letusannya sulit diramalkan. Kini, ancaman maut Gunung Merapi bersumber dari kubah lava aktif yang sejak tahun 1984 terbentuk.

Pada proses mebentukan kubah lava inilah awan panas bisa muncul. Awan panas Merapi berasal dari lava pijar yang longsor dari kubah yang sedang dibangun, ataupun langsung dari magma yang mengalir keluar lalu longsor.

Dalam pembentukan kubah lava aktifnya, Merapi telah mengalami empat fase. Fase keempat berlangsung 2-3 abad lalu, menghasilkan Merapi termuda yang sangat aktif. Jika lubang keluarnya lava sedikit saja terhambat akan membentuk gumpalan awan panas.

Makin besar material yang menyumbatnya, ancaman Merapi akan makin berbahaya karena letupannya pun akan semakin besar dan suhunya semakin panas.

Suhu kubah lava, pada bagian dalam setara dengan titik lebur batuan endosit (batuan gunung), yaitu sekitar 800 derajat celsius, literatur lain menyebut suhu itu bisa mencapai 900 – 1.200 derajat celcius!  TJ/jpx

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: