Masjid Patok Negara Dongkelan

Masjid Pathok Negoro Dongkelan Kauman atau sering juga disebur Nurul Huda merupakan salah satu masjid Panceraning Bumi di bagian barat Keraton Yogya yang berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menangkal serangan musuh. Seperti halnya Masjid Pathok Negoro lain di Yogyakarta, Masjid Nurul Huda Dongkelan yang terletak di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, memang sederhana dan berfungsi sebagai tempat beribadah meskipun keberadaannya hingga kini telah berumur lebih kurang 230 tahun, masjid ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sekitar.

Ketua Takmir masjid sekaligus salah satu sesepuh Masjid Nurul Huda, Asnawi Kamil kepada KRjogja.com, Senin (31/8) siang mengatakan, sejarah masjid ini berawal saat Pangeran Mangkubumi mengadakan sayembara untuk mencari pengawal yang memiliki kesaktian tinggi. Dari sejumlah kontestan yang ikut, sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kiai Syihabudin. Setelah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama di Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756, Kiai Syihabudin diangkat sebagai penghulu, mengelola masjid di atas tanah perdikan Desa Dongkelan.

“Berbekal ilmu agama dan “kanuragan” yang tinggi, keberadaan sang kiai di tempat itu sesuai dengan tujuan pendirian masjid, yaitu untuk kegiatan agama dan pertahanan,” ujarnya

Suasana tenang penuh kesederhanaan, masih tercermin hingga sekarang. Arsitektur masjid yang dibangun Keraton Yogyakarta sebagian masih menyisakan kekhasan masjid keraton pada masa itu. Pilar-pilar penyangga masjid tampak minimalis, hanya ada sedikit goresan motif ukiran. Lantai masjid yang dulunya berwarna hitam, kini hanya digantikan keramik putih polos.

Beduk warna coklat kusam berusia 106 tahun di sayap utama serambi masjid juga masih terdapat di masjid ini. Bangunan masjid ini terhitung kecil dibandingkan Masjid Pathok Negoro lainnya, yaitu seluas lebih kurang 200 meter persegi. Berdasarkan penuturan Asnawi, awalnya bangunan masjid juga tidak begitu luas dan hanya beratapkan ijuk. Namun, kesederhanaan tersebut tidak menyurutkan niat masyarakat Dongkelan untuk beribadah dan memperdalam ilmu keagamaan dan “kanuragan”. Ketika pemberontakan Diponegoro melawan Belanda (1825-1830) berakhir, masjid per-tahanan keraton ini sempat dibakar tentara kolonial.

Mereka menganggap Masjid Nurul Huda Dongkelan sebagai tempat berkumpulnya pemberontak. Seusai perang itu, pihak keraton bersama-sama masyarakat Kauman Dongkelan membangun kembali Masjid Nurul Huda Dongkelan. Awalnya (1830-an), bagian inti masjid dibangun lagi. Kemudian, mengacu pada tulisan di saka guru serambi masjid berbahan kayu jati yang menunjukkan angka 1948, dimulailah renovasi Masjid Nurul Huda Dongkelan tahap berikutnya.

Namun, luas bangunan masjid praktis tak banyak berubah setelah renovasi itu. Pada tahun 1950-an, Masjid Nurul Huda Dongkelan akhirnya tak lagi digunakan untuk basis pertahanan Keraton Yogyakarta. Masjid ini kemudian lebih banyak digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah, mengaji, memperdalam ilmu keagamaan, dan tempat peringatan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini, warga Kampung Kauman Dongkelan tetap melakukan tradisi dengan menjalankan berbagai kegiatan agama, mulai dari kegiatan takjilan bagi remaja dan anak-anak menjelang buka puasa, shalat tarawih, kuliah subuh, hingga pengkajian ilmu agama dan Al Quran.

Ketua Panitia Pusat Informasi Ramadhan (PIR) masjid Nurul Huda Dongkelan, Anwar Pribadi menambahkan sudah sejak 2004 telah didirikan PIR sehingga membantu pelaksanaan kegiatan keagamaan di masjid ini. “Kami juga mendirikan radio komunitas Pathok Negoro FM yang berfungsi menyiarkan dakwah dan siaran langsung segala kegiatan yang diadakan di masjid ini, termasuk dari tarawih, subuhan hingga takjilan,”

Lebih lanjut Anwar menambahkan, uniknya takjilan disini untuk bapal-bapak warga desa ini, selebihnya untuk anak-anak kecil hanya dilakukan seminggu tiga kali yaitu, Senin, Kamis dan Sabtu. Untuk kegiatan lainnya akan segera diselenggarakan Basar Ramadhan Pathuk Negoro Nurul Huda tanggal 8 September 2009 beserta penyerahan santunan ke berbagai panti asuhan.

Sumber kr jogja.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: