Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Sekilas tidak ada yang istimewa pada bangunan Masjid Jami’Plosokuning ini, bangunan berlantai satu itu memiliki kubah, menara, serambi, mimbar, hingga  kentongan dan bedug di dalamnya. Masjid Pathok Nagari Sulthoni Plosokuning berdiri di atas tanah Kasultanan Yogyakarta seluas 2.500 meter persegi. Pada saat didirikan, bangunan masjid hanya seluas 288 m2, tetapi setelah pengembangan bangunan masjid berkembang menjadi seluas 328 m2. Di antara kelima Masjid Pathok Nagari milik Keraton Yogyakarta, Masjid Pathok Nagari “Sulthoni” di Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya sehingga dinobatkan menjadi cagar budaya oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning bermula dari riwayat Amangkurat IV sebagai Raja Mataram Islam yang memerintah pada tahun 1719-1727 M. Beliau memiliki tiga orang putra yakni, Raden Mas Ichsan, Pangeran Adipati Anom, serta Pangeran Mangkubumi. Pangeran Adipati Anom menjadi Raja dengan gelar Pakubuwono II dengan ibu kota Surakarta Hadiningrat (1727-1749 M). Sesudah terjadi perjanjian Giyanti pada tahun 1755 M, Pangeran Mangkubumi (saudara muda Pakubuwono II) diangkat menjadi Raja Ngayogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I dengan ibu kota Ngayogyokarto Hadiningrat (1755-1792 M). Sesudah Sultan Hamengku Buwono I wafat, kemudian digantikan oleh Sultan Hamengku Buwono II, yang memerintah pada tahun 1792-1812. Lalu diganti oleh Hamengku Buwono III yang memerintah pada tahun 1812-1814. Beliau adalah ayahanda pangeran Diponegoro. Pada masa pemerintahan Sultan inilah, Masjid Besar Plosokuning didirikan, yaitu ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Plosokuning.

Masjid Pathok Nagari Sulthoni Plosokuning didirikan setelah pembangunan Masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrab, kentongan dan bedug.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira berada di sekitar 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah tidak ada. Satu hal yang menarik dari desa ini adalah hingga sekarang daerah di sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. Daerah di sekitar masjid dikenal dengan sebutan daerah Mutihan yang mempunyai arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yang disebut daerah Mutihan juga disebut sebagai daerah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yang mempunyai ikatan darah dengan pendiri masjid. Sedangkan daerah yang agak jauh dari masjid disebut Ploso Kuning Jobo.

Dalam perkembangan saat ini, arsitektur tradisional telah banyak mengalami perubahan dan salah satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern di Indonesia. Hal di atas juga berpengaruh terhadap Masjid Pathok Nagari yang ada. Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa dengan menggunakan semen merah, kemudian pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu juga dengan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal 2 batu, namun karena terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya ada satu dan sangat rendah yang menyebabkan ruang masjid menjadi gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan agar setiap orang yang masuk masjid hendaknya menunduk dan menunjukkan rasa tatakrama serta sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian menyebabkan ruangan di dalam masjid menjadi gelap, sehingga pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian serta ditambah jendela di ruang dalam masjid.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY kembali mengalami renovasi masjid pada bagian serambi dan tempat wudhu. Pada tahun ini pula masyarakat secara swadaya mengganti lantai tegel masjid dengan keramik, memasang konblok di halaman serta mendirikan menara pengeras suara.
Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga keraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.

B. Keistimewaan

Masjid Pathok Nagari mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan, yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok nagari lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan Masjid Pathok Nagari ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Dari kelima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Nagari Plosokuning saja yang sampai saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Keaslian Masjid Pathok Nagari Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap di mana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat, dan sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid. Dulu, penutup atap masjid menggunakan sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng pada tahun 1946.

Masjid ini juga masih menganut adat lama di mana adzan pada saat sholat Jum’at dilakukan 2 kali. Dahulu sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka. Begitu juga dengan khotbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 adat tersebut berubah, muadzin yang semula berjumlah 5 orang menjadi 2 orang, tetapi adzan tetap dilakukan 2 kali. Khotbah juga diganti dengan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini memiliki pintu gerbang yang berundak. Tiga undakan pertama menujukkan bahwa Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam dan ikhsan. Pada 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada 5 sedangkan pada 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu ada 6.

C. Lokasi

Masjid Pathok Nagari Sulthoni berlokasi di Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman Yogyakarta.

D. Akses

Masjid Pathok Nagari Sulthoni Plosokuning terletak sekitar 10 km ke arah utara dari Kraton Yogyakarta. Bagi Anda yang membawa kendaraan pribadi, Masjid Nagari Plosokuning ini bisa ditempuh dari Yogyakarta. Dari Bandara Adisucipto, Anda bisa menuju ke arah Ringroad Timur dan pergi ke arah utara Pasar Condong Catur dan sebelum ada jalanan turun, Anda belok ke kiri hingga menemukan kembali pertigaan, Anda bisa berbelok kanan dan lurus terus ke arah Minomartani.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di depan masjid terdapat dua kolam dengan kedalaman 3 meter. Setiap orang yang akan memasuki masjid harus bersuci terlebih dahulu di kolam itu. Makna lain dari 2 kolam ini adalah apabila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya. Saat ini kolam tersebut juga digunakan untuk memelihara ikan serta untuk mencuci kaki sebelum masuk ke masjid.

Di dalam masjid, terdapat mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini juga dilengkapi dengan sebuah tongkat yang dipakai oleh khatib pada saat memberikan khotbah yang sampai sekarang masih digunakan.

Teks: Andreas Eko Wahyu S
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: