PEMANAHAN,PENJAWI JURU MARTANI ABDI JOKO TINGKIR

Trio tokoh sela, Pemanahan, Penjawi, Juru Mertani, memegang peran penting dalam percaturan politik dari tiga kerajaan: Demak, Pajang, dan Mataram. Mereka ber asal dari sela(Grobongan yang ter letak di dekat tempat yang secara tradisi dicari sebagaitempat Kerajaan Mataram Kuno.Dari garis laki, mereka adalah turun Majapahit (Brawijaya V –Bondang Kejawan Getas pandawa), dan garis ibu turun dewa (Nawangwulan – Nawangsih – Getas pandawa). Putra tertua Getas Pandawa, KI Ageng Sela (Bagus sogom, sagam?) mempunyai 6 putri dan 1 putra, Ki Ageng Enis (ragil). Ki Ageng Enis mempunyai seorang anak, Pemanahan dan memungut anak angkat, penjawi (keponakan misan), sedangkan Juru Mertani  adalah anak keponakan dan kakak menantunya.Ayah Juru Mertani, KI Ageng Saba, menikah dengan kakak KI Ageng Enis, sedangkan adiknya menikah dengan Pemanahan.

Konon Ki Ageng Sela dapat menangkap petir sewaktu diadakan pemilihan raja baru, penganti pati unus. Saat disambar petir, KI Ageng sela  tidak cidra, malah dapat menangkap dan menyerahkan kepada para wali. Ki Ageng Sela tersohor sebagai seorang yang mempuni, cendekiawan, guru, dalang, seniman, tani gede (kaya), tani mukmin (saleh). Serat suluk pepali Ki Ageng Sela (dalam bentuk tembang Macapat), berisi ajaran pandangan hidup Kejawen, merupakan hasil karya sastra yang berharga.

Ki Ageng Sela pernah melamar menjadi prajurit Demak namun ditolak.  Ki Ageng Sela marah dan dengan 600 anak buahnya mbalela, namun gagal. Sebagai turun Brawijaya , yang memiliki kembang wijayakusuma, Ki Ageng Sela ingin menjadi raja. Setelah tekun bertapa, Ki Ageng Sela mendapat wisik bahwa dirinya tidak mungkin menjadi raja, dan wahyu kraton akan pindah dari Demak ke pajang. Walau pun dirinya tidak mungkin menjadi raja namun Ki Ageng Sela tetap berdoa agar keturunannya dapat mewujudkan cita-citanya. Harapan itu mulai terang ketika Tingkir datang kepadepokanSela untuk berguru kepadanya. Setelah melihat pertanda bahwa Tingkir, yang juga senang tapa brata, akan mendapatkan wahyu kraton, maka Ki Ageng sela menitipkan turunnya kepada Tingkir.                                                          

Harapan   Ki Ageng Sela semakin cerah ketika Tingkir diangkat sebagai lurah tamtama demak, diambil menantu oleh Sultan Trenggana, dan dijadikan Bupati pajang, bergelar Hadiwijaya. Oleh karenanya, KiAgeng sela mengubah siasat dan menghentikan perlawanan terhadap Demak. Secara kebeneran ketiga tokoh sela ini berguru kepada sunan Kalijaga, yang juga guru Hadiwijaya.Mereka dianggap sebagai adik-adik sang Bupati. Pemanahan dan penjawi diangkat sebagai lurah prajurit, dan martini, yang lebih tua, diangkat sebagai ‘’pembimbing’’ mereka. Karena eratnya hubungan mereka berempat, maka Srubut [danang, anak pemanahan], diangkat putra oleh Hadiwijaya

Sebelum pulang ke pajang, Pemanahan menemui Ratu Jepara Kalinyamat, yang dapat memutuskan masalah wasiat demak. Pemanahan meminta dukungan Kalinyamat guna memuluskan jalan Jaka Tingkir menuju tahta, dan berhasil, bahkan di janjikan tahta Demak bagi siapa saja yang bias membunuh Penangsang, pembunuh pewaris Trenggono.

Karena sesuai yang di harap, Pemanahan sangat puas atas konfirmasi Kalinyamat, dan berjanji akan meminta kesediaan Jaka Tingkir untuk menghabisi Penangsang namun pemanahan meminta Kalinyamat menyediakan dara untuk di umpankan kepada Jaka Tingkir yang terkenal thukmis: Batduk klimis artinya selalu tertarik kepada semua wanita yang,  “halus Jidatnya” itupun langsung di setujui Kalinyamat kebetulan memang ada dua dara cantik yang semula di persiapkan untuk Suami Ratu sendiri sebelum di bunuh Penangsang. Pemanahan berdalih bahwa perkawinan ini tak melanggar Syariat Islam menurut ikhwal Siti Aisah yang berusia 7th ketika di ambil Istri Nabi Muhammad SAW.

Juru Martani Ialah putra Ki Ageng Seba (Pangeran Seba), anak Sunan Dalem (Sunan Giri II), cucu Prabu Satmaka (Sunan Giri I), Trah Nabi Muhammad SAW. Dari garis Ibu, ia turun pasangan Bondan Kejawan (anak Brawijaya V), dan Nawangsih (Putri Dewi Nawang Wulan),

Sebagai arsitik kerajaan Mataram kiranya Juru Martani dapat di sejajarkan dengan Arya Wiraraja (Majapahit) atau Nicclo Machiavellia (Itali), ironisnya kedua cucu Juru Martani, Mandurareja dan Upa Santa (Putra-Putra Pangeran Mandura), kelak di hukum mati oleh Sultan Agung karena gagal merebut Batavia (1628th)

Jaka Tingkir lahir kala Ki Ageng Tingkir, guru Ayahnya (Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo), menjadi dalang wayang beber, oleh karenanya Jaka Tingkir di sebut Karebet karena Wayang Beber yang terbuat dari kertas berbunyi  “Kerebet-Kerebet” bila tertiup anging saat hujan.

Ki Ageng Pengging berguru Kepada Syech Siti Jenar, yang mengajarkan konsep Manunggaling kawulo gusti (Wahdatul Sujud) yang di anggap melenceng dari ajaran Islam. Ki Ageng Pengging di eksekusi oleh Sunan Kudus atas Perintah Sultan Bintoro (Raden Patah). Sahabat tunggal Guru Ki Ageng Pengging adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarup, Ki Ageng  Ngerang, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Banyu biru, Ki Ageng Nglawean, Ki Ageng Talpitu.

Empat puluh hari kemudian, Nyai Ageng Pengging Meninggal, dan Karebet di bawa dan di asuh oleh Nyai Ageng Tingkir (yang juga sudah Janda) di desa Tingkir, oleh karenanya di kenal sebagai Joko Tingkir.

Dalam perjalanan ke Demak, Joko tingkir bertemu dengan Sunan Kali Jaga yang meramalnya bahwa Kelak dirinya akan menjadi Raja Besar di Jawa.

Dadung, (tali) ngawuk (gawuk) = alat kelamin perempuan berarti perempuan yang di pingit (munkin salah satu Putri simpanan Sulatan) yang di glibeng (sehingga tidak berangasan lagi) Jaka Tingkir dengan Sadak Kinang (gulungan daun Sirih untuk nginang =alat kelamin Laki-Laki).

Mbajul atau nampang  terutama untuk menggoda dan merayu lawan sejenis. Joko tingkir tidak perlu bersusah mendayung rakitnya karena sudah di topang dan di gerakkan oleh empat puluh Buaya, suatu metaphor Joko Tingkir yang banyak affair percintaan di sepanjang pengembaraanya.

“Habis manis sempah di buang” adalah biasa dalam setiap konspirasi politik dalam meraih kekuasaan (Tahta salah satu Ta dalam 3-Ta).

Versi sinis menyebutnya Juru Martani sebagai juru arsitek Kerajaan Mataram, seorang Machiavelis sezaman dengan Niccolo  Machiavelli.

Tombak bergagang panjang di pergunakan perang berkuda. dikatakan Penangsang adalah contoh petinggi yang dengan berani dan konsekuwen membela rakyat kecil yang di zolimi. Karenanya, menurut Pramuedya Ananta Toir, Pengangsang adalah tokoh idola bagi RM Tirto Adhi Soerja (1875-1918), cucu RMT. Tirtonoto bupati Bajanegara. Sebelum mengawali Pers pribumi pertama yang menjadi redaktur –Kepala dan sekaligus penanggung jawab pers melaya milik asing. Tirto di anugrahi Gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI dengan SK Pres RI No. 085/TK/T2006. Kebetulan Penangsang , Tirto, dan Pramoedya datang dari daerah yang sama.

Pesan Sunan Kali Jaga pada jaka Tingkir: “Nak, apabila raja Jawa yang menggantikan nanti tetap bertahta di keraton Demak, keluhuran budaya Jawa akan sirna. Menurut pertimbanganku Keraton Raja Jawa lebih baik di pindahkan di sekitar kanan kiri Prambanan. Kejayaan Budaya, yang juga akan membawa pada keluhuran Keraton, mesti mendapatkan dukungan Rakyat yang Sesuai lahir dan batin……”

Terlebih lagi bila di pegang oleh Sunan Giri Yang tergolong Islam Puritan atau Mutihan yang berpaham “sempit” walaupun masih berupa hutan, Mataram mewarisi kemasyhuran nama delapan abad yang lampau, Mataram kuno. Di hadapan Hadiwijaya, Panembahan, Bang Wetan  (Jipang, Kediri, Wirasaba, Surabaya, pasuruan, Madura, Sedayu, Lasem, Tuban, Pati).

Sunan Kali Jaga adalah Guru Sultan Hadiwijaya, Panembahan, Penjawi, dan Juru Martani, janji setia dengan suatu “Secape Clause” hidup “sezaman” dengan Niccolo Machiavelli dari Florence (1469-1527). Dua karya, II principe (The prince) dan diskorsi sopra la prima deca di tito Livio sebenarnya baru terkenal 20th setelah Machiaveli meninggal.

Terdapat inkonsistensi dalam tahun, satu versi dalam kepindahan mulai tahun 1568 dan pendiri Kota Gede tahun 1577. Sedangkan wirayat Sunan Prapen baru di berikan tahun 1581. Apakah Pemanahan pergi ke Mataram walaupun “belum resmi di hadiahkan kepadanya?”

Anak Tejakusuma, Wayah Tejo Wulan, buyut Pamekas, wareng raden Patah, turun ke enam Ki Ageng Karanglo adalah tumenggung Wirorejo, ayah Ratu Kencana, yang adalah Permeisuri PB III. Kakek PB IV. Pembayun Janda Ki Ageng Mangir di berikan kepada Senopati kepada Ki Ageng Karanglo ketika Ki Ageng Sudah sangat tua.

Mungkin karena kerekatan “Batiniah” dan similaritas geograpik, Gunung Kidul atau Wonosari “Lebih mesra” dengan wilayah sekitar di PAWONSARI. Akronim dari Pacitan, Wonogiri, Wonosari (sebutan lain untuk Gunungkidul).

Kelak kebo kenongo juga di hokum mati karena di tuduh menganut aliran sesat  Syech Siti Jenar. (dengan eksekutornnya yang sama, Sunan Kudus). Karena putra Kebo Kenongo, Jaka Tingkir, masih terlalu muda maka tidak ada “Petinggi” lagi di Pengging, lagi- lagi jawaban yang sangat diplomatis.

Penguasa Mataram di mulai dari I(Pemanahan 1568-1575), 2(Senopati 1575-1601), 3(Hanyakrawati 1601-1613), 4(Sultan Agung 1613-1646), 5(Amangkurat I 1646-1677), 6(Amangkurat II 1677-1703). Sebenarnya Amangkurat II akan di gantikan oleh trunajaya, “pendiri dinasti Madura” seandainya VOC tidak campur tangan, Trunajaya  setelah merebut Keraton Mataram (Plered) mengejek keturunan Pemanahan; “Raja Mataram dakumameeke tubu, pucuke meneh yen legiyo, senajen bongkote ing biyen ya adhem bae, sebab Rojo traheng tetanen, angur macula bae bali anggono sapi”  Ungkapan ini sekaligus untuk mendapatkan legitimasi bahwa dirinyalah, seorang Pangeran Madura, yang lebih berhak menjadi raja.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Raden Rangga tewas setelah menari adu Kesakten (beksan rangin),  dengan ayahnya sediri, Senopati. Mungkin untuk memutuskan kemungkinan adanya tuintutan tahta dari turun pesisiran (tumpas kelor), cocok seperti yang di inginkan oleh Pemanahan, versi lain yang di uitus Tumenggum Wiramerta (mungkin bergabnti nama setelah naik pangkatnya).

Raden Rangga (anak ke-2, putra ke-1 Panembahan Senopati) sangat sakti dan pernah “mencoba” kesaktian orang (termasuk Juru martini dan Beksan Rangin).  Rangga tewas setelah berperang melawan “ular besar” di desa patalan. Versi lain Rangga “dihilangkan lewat beksan Rangin” dengan Senopati untuk menepis munculnya seorang  calon Raja dari “Pesisir”

Hanyakrowati adalah putra sulung Senopati dari Permesuri1 (anak ke-11, putra ke-6 Senopati). Pangeran Radin adalah putra Pangeran Benawa (atau Prabu Wijaya, Adipati pajang). Berjasa sebagai “intel” dalam bedah Madiun, sehingga Panembahan Madiun dapat di kalahkan tanpa “darah” dan anaknya (Retno Dumilah) di jadikan Permeisuri II Senopati. Adhi Sara telah Berjasa Bedah Mangir, sehingga Ki Ageng Mangir dapat di bunuh tanpa harus “perang” anak pertama dan puti ke-1 senopati yang di kirim untuk melumpuhkan Ki Ageng Mangir yang mbalelo.

Atas nasehat Juru Martani, Pangeran Puger (anak ke-3, putra ke-2 Senopati), di angkat menjadi Adipati Demak agar Puger mau mengakui kekuasaan Mataram. Nmun karena mbalela Puger di serang, di tangkap dan di buang ke Kudus tanpa kawan, mereka yang berjasa adalah Tembaga (di angkat menjadi Pangeran Puger), dan kedawung (diangkat menjadi Demang tanpa Nangil II).

Juga di sebut Pangeran Purbaya (anak ke-7 putra ke-3, Senopati).  Konon Jaka Umbaran diminta untuk membunuh Ibu kandungnya sendiri agar di terima Pasuwitanya, kemungkinan sekaligus untuk mengkikis habis kemungkinan timbulnya tuntunan dari Turun Giring di gunungkidil menjadi Raja, Jayaraga (anak ke10 putra ke-5 Senopati) diangkat menjadi Adipati Panaraga, namun kemudian mbalela dan di tawan adik-adik Senopati, Pringgolaya dan Martoloyo, Jagaraga kemudian di buang ke Masjid batu tanpa kawan.

Versi lain mengatakan, akan memenuhi permintaan itu, asalkan tahta tidak terisi karena putera Raja dianggap tidak patut mengisinya,

Kemudian dialah yang boleh naik tahta….” Dalam pesanya Sultan menyebutnya bahwa yang di larang adalah jamuan “politik”untuk mencari pengikut, rambut gondrong karena “tidak islami” dan yang bener bener di larang adalah tidak sowan ke Pajang, suatu awal tindak  mbalelo. Berbohong untuk menutupi kejelekan orang lain demi tercapainya ahir yang lebih baik.

Ada seorang petinggi dari Mbanyumas, Ki Bocor yang ingin mencoba kesaktian Sutowijaya dengan menikamkan keris saktinya, yang bernama kebo dengen, setelah gagal berkali-kali  menikamkanya, Ki Bocor ahirnya menyerah, tidak di hukum malahan di ampuni oleh sutawijaya, sampai sekarang batu di Lipura (empat pal sebelah barat daya Yogya) ini masih di anggap keramat dan di jaga juru kunci seseorang dari keratin.

Amangkurat 1 mengungsi ketika kraton Pleret di duduki, dijarah, dan di rusak pasukan Trunajaya, sebenarnya Jurumartani ingin agar Sutawijaya mendapat legitimasi baru untuk menggantikanyang di peroleh dari Sunan Giri (Pesisiran), mungkin yang muncul bukan Sunan Kali Jaga Munkin anaknya yang bernama Sunan Hadi Kusuma (yang Juga Sakti), penjaga Mataram di utara Kyai Sapujagat (versi lain Menyebutkan Kanjeng Ratu sekar Kedaton), di timur Kanjeng Sunan Lawu, di selatan Ratu Kidul, dan Di barat Sang hyang Pramoni (di dlepih, versi lain di hutan krendha wahana). Agak terjadi kerancuan kiblat di sini, karena Dlepih memang benar terletak di sebelah barat kraton Surakarta, tetapi di sebelah timur Kraton Pleret Yogya.

Bupati tuban ke XV, turun Adipati Ranggalawe (bupati II, cucu bupati I-Arya Dhandhang Wacana atau Kyai Ageng Papringan. Raden Rangga sangat sakti dan pernah mencoba Gurunya, Jurumartani Berdemontrasi bahwa dirinya dapat melobangi gentong penyimpan air wudu dengan jari telunjuk. Juru Martani menegur dengan mengatakan bahwa gentong itu keras, dan memang Raden Rangga tidak dapat melobangi dengan tangan kosong, sejak saat itu Raden Rangga tunduk kepada Juru Martani.

Termasuk di tubuhnya Ki Bende Becak tinggalan Ki Ageng Selo. Sewaktu menanggap wayang dengan dalang Ki Becak , sela jatuh hati kepada Istri Dalang. Ki Ageng Selo Membunuh Ki Becak mengambil Istri dan seprangkat Gamelanya, termasuk bende. Menurut Sunan Kali Jaga Bende tersebut akan menjadi Pusaka Keraton. Bila bende tersebut di tabuh akan bunyi menggelegar maka perang akan di menangkan  (seperti halnya dengan Bende Pusaka Majapahit, yang bernama Kyai Samudra).

Ada versi yang mengatakan bahwa ketika Juru Taman, Jin Abdi Suta Wijaya, menawarkan jasanya untuk membunuh Sultan Pajang, Sutawijaya berkata:  “… saya tidak punya niat seperti itu. Tetapi… jika kau mau berbuat demikian…. Terserahlah saya tidak memerintahkanya, tetapi juga tidak melarang: tanggap sasmita Nalendra, Juru Taman segera Membunuh Sultan Pajang, ini mirip ketika Lohgawa Menjawab pertanyaan muritnya , Kenarok. Waktu itu Kenarok bertanya apakah boleh membunuh Aku Tumapel dengan keris dari belakang, Lohgawe menjawab: “…tidak pantas bagi seorang Rohaniwan untuk menyetujui perbuatan seperti itu… tetapi terserahlah kepadamu sendiri”.

Versi ngayogyakarto, Sultan Pajang di Makamkan di Kotagede, di tajug  ( yang terletak paling utara) beserta Nyai Ageng Enis, Ibu Pemanahan dan Pangeran Jaya Prana. Ketiga-tiganyan Telak menurunkan para Raja di Surakarta dan Yogya.

6 Komentar

  1. etcetera said,

    Sabtu 19 Januari 2013 at 4:18 PM

    Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir, http://habibhasnan.wordpress.com/2013/01/07/hafidz-allamar-penerus-perjuangan-ki-ageng-mangir/

    • sarjiono774 said,

      Rabu 30 Januari 2013 at 11:13 AM

      trimakasih mas @etcetera atas kunjunganya
      di buku yang saya baca hanya sepenggal sepenggal jadi tidak mengulas satu persatu untuk ki ageng Mangir maupun pembayun

  2. Senin 10 Maret 2014 at 10:17 AM

    sejarah yg sdh terjadi merupakan sebuah takdir dari Allah maka tidak perlu disesali. Kebaikan dan drajat sesorang bukan dilihat dari pangkat , jabatan, dan garis keturunann tapi dari amal kebaikannya.

    Brang siapa banyak berbuat baik maka akan diangkat drajatnya oleh Allah swt.

    • sarjiono774 said,

      Senin 10 Maret 2014 at 11:15 AM

      setuju kita semua tinggal menikmati hasil perjuangan beliau”

  3. Senin 10 Maret 2014 at 10:21 AM

    Sehingga siapa saja yang berasal dari keturunan Brawijaya, keturunan Mataram, keturunan kasunan ngayogjokarta yg masih berdarah biru tidak usah kecewa karena anda tdk menggenggam tahta. Dan andapun tdk perlu merasa bangga karena keturunan ningrat. Yang perlu diwarisi adalah rasa syukur kepada ygang memberi kehidupan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: